Menuai Inspirasi dari Selatan Negeri (1)

Ingin rasanya pergi ke suatu tempat saat pergantian usia. Sendiri, mungkin saja.

Itulah keinginan yang sempat dicurhatkan sejak dua tahun silam. Berada dalam perjalanan akan membuat saya terpancing untuk merefleksikan kembali perjalanan-perjalanan yang selama ini dilakoni. Tahun ini, harapan terwujud berkat Rote Mengajar (RM). Walau tak benar-benar sendiri, saya mendapatkan kesempatan berbagi di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, garda paling selatan Indonesia. Perjalanan yang jauh jauh jauh dari rencana.

RM merupakan gerakan inisiatif yang dilakukan oleh sejumlah pihak yang ada di Rote Ndao, termasuk para Pengajar Muda Indonesia Mengajar, komunitas pemuda, dan lembaga pemerintah setempat. Kegiatannya, mengajak pemuda Indonesia yang tersebar di seluruh daerah untuk menginspirasi anak-anak Rote dengan menjadi relawan pengajar atau dokumentasi. Bukan mengajarkan Matematika atau Bahasa Indonesia.  

Konsep RM seperti Kelas Inspirasi milik Gerakan Indonesia Mengajar. Kaum profesi mengenalkan profesinya kepada murid-murid SD dengan cara yang menyenangkan. Mengingatkan bahwa pilihan profesi sangatlah beragam. Tambahannya, relawan diajak tinggal selama beberapa hari di desa penempatan. Selain mengajar, relawan juga terlibat dalam sesi sharing bersama penduduk. Ada pula relawan yang terlibat dalam diskusi bersama anak-anak SMA dan guru.

Awalnya, informasi tentang RM didapat berkat kena tag dari Facebook Tika, teman sekampus. Belum ada niatan untuk membuka. Beberapa hari kemudian, baru benar-benar menyimak. Buka tautan, lalu masih belum ada niatan mendaftar. Nyali langsung menyiut ketika salah satu syaratnya adalah berani mengambil cuti sekitar 10 hari. Oke. belum apa-apa sudah membayangkan betapa sungkan mengajukan cuti sebanyak itu. Status saya masih terbilang karyawan baru dibandingkan kawan-kawan senior yang bekerja sudah lebih dari 5 tahun.

Untuk kedua kalinya, Tika – yang ternyata sempat menjadi Pengajar Muda di Rote Ndao – menyebar poster lagi dan kembali saya kena tag. Rasanya ada yang sedang menggoda-goda untuk kembali mempertimbangkan kegiatan ini. Berkali-kali saya membaca aturan yang dipaparkan. Informasi awal yang cukup lengkap.

Saya melihat jadwal kegiatan dan menghitung estimasi waktu berada di Rote dan Kupang. Oke, daftar! Ternyata, tak perlu izin cuti selama 10 hari. Cukup 5 hari. Inilah jatah cuti terbanyak yang pernah dipakai selama bekerja. Beruntung lagi, dapat ACC! “Cuti itu adalah hak karyawan…” kata sang atasan. Yeay! Terima kasih, Mas Aca.

Degdegan
Setelah degdegan menanti pengumuman seleksi, masih ada degdegan yang harus dihadapi. Saatnya mempersiapkan amunisi. Jujur, saya sendiri tak begitu percaya diri karena pengalaman mengikuti program serupa belumlah banyak. Berhadapan dengan anak-anak pun selalu membuat degdegan. Mereka punya kejutan. Ditambah lagi, degdegan bertemu teman-teman baru. Melihat daftar nama yang diterima sebagai relawan, tidak ada satu pun nama yang saya kenal.

Berbekal cerita saat bertemu adik-adik di SLH Lampung Timur dan mengikuti KG Inspirasi, saya mulai mencicil apa yang bisa disiapkan sembari menunggu pengumuman SD penempatan. Membuat daftar kegiatan yang bisa dilakukan untuk kelas 1-6, mencari referensi bahan lagu-lagu anak, memikirkan konsep pengenalan profesi, dan mengingat-ingat pesan Mba Arn dan Bung Awe yang pernah disampaikan. Tak lupa juga membuat draft jadwal mengajar.

Panitia, termasuk kakak-kakak Pengajar Muda VIII yang bertugas di Rote Ndao, sangat kooperatif terhadap relawan. Kami memiliki grup Whatsapp RM (yang masih aktif hingga sekarang). Pertanyaan juga terbuka diajukan via surel, padahal sinyal internet di sana manasuka dan tidak dapat diprediksi. Salut untuk panitia.

Karena belum pernah pergi ke Kupang dan Rote sebelumnya, saya tentu saja bertanya-tanya seputar akses dan akomodasi lebih detail. Kepastian mengenai jadwal kapal untuk menyeberang dan tempat penginapan saat berada di Kupang.

Selanjutnya, bertanya untuk keperluan mengajar. Menanyakan kondisi Rote secara menyeluruh, lalu kondisi desa penempatan. Misalnya, mata pencaharian penduduk, hasil alam, tingkat pendidikan, dan bahasa lokal. Informasi-informasi tersebut akan sangat membantu saya saat memberikan kegiatan di kelas supaya tak berjarak dan pesan lebih mudah diterima.

Selain mengajar di kelas, saya juga terpilih mengikuti sesi talkshow dan mengenalkan profesi kepada murid-murid SMA di Rote.

Saya bertanya supaya ada gambaran dan bisa menyiapkan segala sesuatu yang sesuai.

Membawa peta Indonesia, mengenalkan di mana letak Pulau Rote. Menyiapkan gelang cita-cita meski pada hari H, properti tidak sempat dipakai karena keterbatasan waktu.

Membawa peta Indonesia, mengenalkan di mana letak Pulau Rote. Menyiapkan gelang cita-cita meski pada hari H, properti tidak sempat dipakai karena keterbatasan waktu. Urusan cetak-mencetak, saya dibantu oleh Notoco Print🙂

Berniat untuk meminta izin menggunakan wayang Cilukba buatan Rabbit Hole, Mba Devi-sang owner-justru ikut menitipkan beberapa wayang untuk adik-adik di SD Moklain. Menyenangkan.

Berniat untuk meminta izin menggunakan wayang Cilukba buatan Rabbit Hole, Mba Devi-sang owner-justru ikut menitipkan beberapa wayang untuk adik-adik di SDI Moklain. Menyenangkan. Dua wayang besar dimodifikasi menjadi editor dan copywriter, lengkap dengan gambar laptop, KBBI, notes, dan recorder.

Tumpukan surat semangat yang saya kumpulkan dari teman kantor, kampus, teman sekolah, teman Jogja, sampai temannya teman. Ada juga anaknya pak bos. Terima kasih banyak sudah ikut mengirimkan semangat.

Tumpukan surat semangat yang saya kumpulkan dari teman kantor, kampus, teman sekolah, teman Jogja, sampai temannya teman. Ada juga anaknya pak bos. Terima kasih banyak sudah ikut mengirimkan semangat.

Ini dia SD Penempatan saya bersama 4 relawan lainnya. Harus membiasakan lidah untuk melafal Moklain dan Lidamanu. Hehehe… Kami juga mendapat informasi kondisi geografis desa penempatan, data sekolah, dan hostfam yang bisa dikontak.

Salah satu contoh data deskripsi desa penempatan yang diberikan panitia

Sempat terjadi perubahan tim relawan untuk SD Inpres Moklain, terutama untuk relawan yang berasal dari Kupang dan Rote. Meski demikian, masa-masa persiapan sudah saya manfaatkan untuk berkoordinasi dengan salah satu relawan yang bukan berasal dari Kupang maupun Rote, yaitu Kak Kingkin asal Surabaya. Jarak tidaklah menghalangi kami. 

Saya dan Kak Kingkin sepakat untuk memakai asumsi, dua kelas digabung menjadi satu karena SDI Moklain tidak mengenal kelas A, B, atau C. Satu jenjang kelas, cukup satu ruangan. Ya, strategi pembagian kelas mau tak mau harus disusun sebelum keberangkatan karena memengaruhi alat peraga yang akan dibawa. Jika memang ada perubahan pada hari-H, itu urusan nanti.

Hingga akhirnya, Tim Moklain adalah saya, Kingkin (sekretaris, Surabaya), Franky (duta wisata NTT 2014, Kupang), Juztin (relawan dokumentar, Kupang), dan Pak Zakaria Killa (Polisi, Rote).

Packing kali ini berbeda, isi tas penuh alat peraga \m/

Packing kali ini berbeda, isi tas penuh alat peraga. Kalau dulu, berpikir bagaimana caranya packing agar pakaian tak “rusak”. Sekarang, berpikir keras supaya alat peraga tidak rusak \m/

Degdegan makin kentara saat memikirkan materi di kelas. Beruntung, teman-teman relawan yang ada di Jakarta berinisiatif untuk kopi darat. Berkenalan dan berbagi cerita. Terlebih lagi, beberapa relawan kerap wira-wiri mengikuti Kelas Inspirasi di berbagai daerah. Mereka tak sungkan berbagi ide, tips, dan trik. Selanjutnya, saya mulai mengumpulkan pencerahan dan kembali degdegan jelang keberangkatan. 

*berlanjut ke Menuai Inspirasi dari Selatan Negeri (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s