Menuai Inspirasi dari Selatan Negeri (2)

Katanya, hidup adalah perjalanan. Setiap perjalanan pun selalu ada pembelajaran. Lalu, saatnya bersiap untuk terus belajar di sekolah kehidupan.

8 April 2015
Selamat datang, usia baru. Selamat datang, Rote!

Nyanyian ulang tahun dari mama sesaat tiba di Pelabuhan Tenau, Kupang jadi penyemangat, penghilang degdegan. Barangkali, terlambat sedikit mama menelepon, sinyal langsung menghalangi sapaannya. Rasa haru jadi berlipat-lipat ketika mendengar suara orang terkasih dalam jarak. Anugerah semesta yang penuh kejutan.

Bersama-sama pergi ke selatan negeri, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Tempat istimewa pada hari istimewa. Lebih menyenangkan lagi, diberi kesempatan untuk berbagi. Momen yang juga bisa menghadirkan pembelajaran bagi diri sendiri.

Inilah hari yang dinantikan setelah melakukan segala persiapan demi Rote Mengajar (Rombongan Profesional Terjun Mengajar) 2015. Selamat datang di Rote! Nusa Lote Nusa Malole. Makasi No’uk. Au Sue Lote. Para remaja lokal menyambut relawan di Pelabuhan Ba’a. Mereka membawa karton yang bertuliskan bahasa khas. Langsung saya teringat “kelas bahasa” singkat dari grup Whatsapp Rote Mengajar 2015.

Penyambutan #1 di Pelabuhan Ba'a.

Penyambutan #1 di Pelabuhan Ba’a. Kami juga diajak untuk menari Tarian Kebalai, tarian berkeliling yang diramaikan dengan nyanyian dan pantun.

“Malole” itu artinya indah, cantik. “Makasi no’uk” untuk ungkapan terima kasih. “Au Sue Lote” itu artinya “saya cinta Rote”. Hasil belajar bahasa sudah mulai diuji, bahkan kosa kata dalam kamus saku sudah bisa langsung ditambahkan selama perjalanan. 

Penyambutan #2 di rumah bupati di Ne'e. Panitia RM yang keren foto bersama.

Penyambutan #2 di rumah bupati di Ne’e. Panitia RM yang keren foto bersama.

Penyambutan #3 oleh Kepala Sekolah, mama-bapa hostfam, anak-anak, serta penduduk Desa Moklain, Rote Tengah (8/4). Waktu tempuh dari rumah bupati hingga desa penempatan kurang lebih membutuhkan waktu 45 menit.

Penyambutan #3 oleh Kepala Sekolah, mama-bapa hostfam, anak-anak, serta penduduk Desa Moklain, Rote Tengah (8/4). Menari Kebalai lagi. [DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Saya, Kak Kingkin (paling kanan) bersama Bapak Kepala Sekolah (kedua dari kiri), dan keluarganya. [DOK JUSTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR

Saya, Kak Kingkin (paling kanan) bersama Bapak Kepala Sekolah (kedua dari kiri), dan keluarganya. [DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR

Rumah mama dan bapa asuh (bapa Musa Seubelan). Saya dan Kak Kingkin satu hostfam.

Rumah mama dan bapa asuh (bapa Musa Seubelan). Saya dan Kak Kingkin satu hostfam. Jarak rumah-sekolah sebenarnya dekat dan bisa ditempuh dengan jalan kaki, mungkin sekitar 15-20 menit. Namun, jalanan belumlah diaspal.

Dapur yang menghasilkan makanan-makanan enak bagi saya dan Kak Kingkin :p

Dapur mama yang menghasilkan makanan-makanan enak bagi saya dan Kak Kingkin :p

Suasana sekitar rumah mama-bapa asuh. Kanan kiri masih banyak pepohonan yang rimbun. Kalau malam ya gelap sekali.

Suasana sekitar rumah mama-bapa asuh. Masih banyak pepohonan yang rimbun.  Kalau malam, ya jalanan gelap sekali.

9 April 2015

Waktunya bertemu adik-adik SDI Moklain! :) [DOK JUSTIN/RELAWAN DOKUMENTAOR]

Waktunya bertemu adik-adik SDI Moklain!🙂 [DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTAOR]

Kejutan
Pembelajaran pun terus berlanjut hingga saya bertemu dan menyapa adik-adik di sekolah penempatan, SD Inpres Moklain, Rote Tengah. Kelas 2, Kelas 4, Kelas 5, serta Kelas 6. Mereka adalah guru sesungguhnya, sang pemberi inspirasi. Mereka hadir dengan penuh kejutan.

Pada jam pertama, saya berada di kelas 2 bersama Pak Killa yang berprofesi sebagai polisi. Saya sempat hilang akal membujuk salah satu anak untuk berani maju ke depan kelas dan menunjuk letak Pulau Rote pada peta. Ia tahu, tapi malu. Suaranya sayup-sayup diucapkan dari bangku.

Setelah beberapa kali dibujuk rayu, ia pun berani maju meski langkahnya masih ragu. Mengajak dan memotivasi anak untuk berani berbicara dan maju ke depan kelas bukan perkara sepele bagi seorang guru amatir seperti saya.

Selain belajar peta Indonesia, saya ajak adik-adik untuk membuat bendera.

Selain belajar peta Indonesia, saya ajak adik-adik untuk membuat bendera. Oh ya, seragam mereka bagus ya. Pakai rompi tenun. Orangtua mereka buat sendiri.

Mereka yang aktif bertanya, berani menjawab, dan berhasil menyelesaikan bendera dengan cepat, bisa mendapat

Mereka yang aktif bertanya, berani menjawab, dan berhasil menyelesaikan bendera dengan cepat, bisa mendapat “bintang jatuh”. Mereka senyum-senyum kalau dapat bintang. Terima kasih atas donasi sticky note bintang dari Olive :p [DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Bendera siap! [DOK JUSTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Bendera siap! [DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Merah ada di? ATAAAASSS Putih ada di? BAWAAAHHH SD Inpres Moklain ada di? ROTE TENGAAAH Rote ada di? INDONESIAAAAAA… Mereka mengajarkan tentang improvisasi. Bagaimana agar adik-adik menempelkan bendera merah putih tanpa terbalik? Bagaimana caranya agar mereka tahu berada di mana? Bagaimana caranya agar mereka yakin bahwa mereka juga merupakan anak-anak Indonesia? Berada di titik terselatan tidaklah menjauhkan mereka dari negeri sendiri. Setelah membuat bendera Indonesia, saya kembali mengajak mereka untuk berani maju ke depan, menunjuk lokasi Pulau Rote pada peta yang saya bawa. Mereka yang berani maju ke depan bersama-sama memberikan TEPUK SEMANGAT kepada teman-teman yang ragu maju ke depan kelas. Riuh tepuk dan suara lantang mereka pun membahana. Tepuk salut untuk mereka, guru terbaik! [DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Merah ada di? ATAAAASSS Putih ada di? BAWAAAHHH SD Inpres Moklain ada di? ROTE TENGAAAH Rote ada di? INDONESIAAAAAA… Mereka mengajarkan tentang improvisasi. Bagaimana agar adik-adik menempelkan bendera merah putih tanpa terbalik? Bagaimana caranya agar mereka tahu berada di mana? Bagaimana caranya agar mereka yakin bahwa mereka juga merupakan anak-anak Indonesia? Berada di titik paling selatan tidaklah menjauhkan mereka dari negeri sendiri. Setelah membuat bendera Indonesia, saya kembali mengajak mereka untuk berani maju ke depan, menunjuk lokasi Pulau Rote pada peta yang saya bawa. Mereka yang berani maju ke depan bersama-sama memberikan TEPUK SEMANGAT kepada teman-teman yang ragu maju ke depan kelas. Riuh tepuk dan suara lantang mereka pun membahana. Tepuk salut untuk mereka, guru terbaik! [DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Pada akhir jam mengajar, saya coba menanyakan ulang letak Pulau Rote. Wow. Ternyata, sebagian besar dari mereka berani maju dan menunjuk dengan benar. Mereka perekam yang baik. Bahkan, mereka serentak memberikan tepuk semangat kepada teman-teman lain yang belum berani maju. Karena tak punya banyak pengalaman mengajar, saya menganggap momen ini sebagai prestasi membahagiakan.

Panitia membekali metode mengajar: BOMBER-B (Bang, Outline, Message, Bridge, Example, Recap, Bang). Pada bagian Recap, saya bertanya lagi tentang letak Pulau Rote. Yeay! Banyak yang berani maju! :D [DOK JUSTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Panitia membekali metode mengajar: BOMBER-B (Bang, Outline, Message, Bridge, Example, Recap, Bang). Pada bagian Recap, saya bertanya lagi tentang letak Pulau Rote. Yeay! Banyak yang berani maju!😀 [DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Lain lagi saat saya berhadapan dengan anak-anak kelas 4 SD. Di kelas ini, saya mulai mengenalkan tentang iklan. “Ada yang tahu apa itu iklan?” Pertanyaan dibalas dengan keheningan. Saya berniat untuk memancing dengan TVC Kulit Manggis, tapi saya urungkan. Sepertinya, akan semakin krik-krik.

“Kalau sedang nonton televisi, film kartun, apa yang suka ganggu? Tiba-tiba film kartun terputus… Nah, itu namanya iklan…”

Tiba-tiba seorang anak perempuan mengangkat tangan dan bersuara lantang, “Promosi, Ibu!”

Wow. Saya semringah bukan main. Bangga sekali mendengar jawaban sempurna darinya. Post-it berbentuk bintang pun bersandar di bahunya.

Kemudian, setelah bercerita tentang profesi sebagai penulis iklan, saya mengajak mereka membuat iklan pisang. Iya, kegiatan ini pernah saya lakukan saat KG Inspirasi. Ternyata, anak-anak Rote sangat sangat sangat suka makan pisang.

“Siapa di sini suka makan pisang?”

“Sayaaaa!” Semua anak angkat tangan.

“Siapa yang suka makan 1 pisang dalam sehari?”

Tak ada satu tangan pun yang terlihat.

“Siapa yang makan 2 pisang dalam sehari?

Tak ada pergerakan.

“Makan 3??”

Saya mulai keringatan. Aneh. Padahal, tadi banyak yang mengaku suka makan pisang.

“Ibu Gandes ini nanti sonde selesai. Anak-anak Rote sonde makan pisang 1-2. Siapa yang makan pisang 5?” Kata Pak Killa, rekan relawan pengajar yang berasal dari Rote. Beliau adalah seorang polisi. Saya pun tertawa. Benar juga ya. Saya absen dari 1, bakal tidak ada yang angkat tangan. Sebagian anak sudah ada yang mengiyakan pertanyaan Pak Killa.

“Siapa yang makan 10 pisang?” Tangan yang diangkat semakin banyak. Hmm… coba dari tadi langsung pasang angka 5. Hehehe… Lesson learned.

Asyik paang-pasang gambar iklan pisang.

Asyik pasang-pasang gambar iklan pisang.

Dari 5 kelompok, hanya 1 kelompok yang tidak menempel gambar monyet. sebagian anak menempel kata

Dari 5 kelompok, hanya 1 kelompok yang tidak menempel gambar monyet. sebagian anak menempel kata “senang” sebagai manfaat dari pisang. Jika ditanya secara lisan, mereka menjawab “pisang itu enak, bergizi, sehat.” Satu kelompok terpilih menjadi Jagoan Iklan.

Kejutan masih berlanjut di kelas 5 dan 6 yang kami gabung. Di sesi terakhir, kami berempat berkumpul jadi satu untuk bercerita. Benang merahnya adalah “Ayo, menulis!”. Kak Kingkin yang berprofesi sebagai sekretaris bertanya siapa yang menjadi sekretaris di kelas. Lalu, bercerita apa sih yang biasanya ditulis saat bekerja. Sedangkan kak Franky, berkata bahwa adik-adik bisa mengenalkan Rote dengan cara menulis. Saya yakin, setiap orang bisa menulis. Setiap profesi membutuhkan kemampuan menulis.

Menjelaskan

Menjelaskan “bagaimana bisa menjadi seperti kami?” [DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Alhasil, mereka diajak untuk bercerita tentang Rote di selembar kartu pos. Entah itu potensi alam atau kondisi rumah mereka. Kartu pos tersebut bisa ditujukan kepada kakak-kakak pengirim surat, teman lain, atau bapak ibu guru.

Terima kasih untuk Card to Post yang sudah mendukung dengan blank kartu pos yang sungguh bermanfaat.

Terima kasih untuk Card to Post yang sudah mendukung dengan blank kartu pos yang sungguh bermanfaat.

“Ada apa? Kok, belum tulis?” Saya berkeliling, menghampiri meja satu per satu. Terlihat salah satu siswa masih ragu untuk menulis. Ia salah satu dari siswa yang duduk di barisan belakang. Karena satu meja dipakai beramaian (kelas yang digabung), ia memilih untuk jongkok dan menulis surat di bangku. 

[DOK JUSTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

[DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

“Bingung… Hehehe…”

“Ee sonde bingung. Cerita saja tentang rumah kamu. Ada apa di rumah?”

“Ada babi…”

“Nah, bisa ceritakan tentang babi. Kalau babi sukanya makan apa? Ibu sonde pelihara babi jadi sonde tahu babi suka makan apa… Kamu kasih makan terus?”

“Iya. Ada makanannya…”

“Nah, tulis sa… Ceritakan kepada ibu…”

Menulis apa yang kita ketahui adalah langkah awal bercerita. Apa yang kita ketahui bisa jadi pengetahuan baru bagi orang lain, sesederhana apa pun.  

Setelah mereka menulis, kartu pos dikumpulkan. Lalu, secara acak, kak Franky memilih adik-adik yang berani membacakan cerita milik temannya yang lain. Mereka bercerita tentang Rote. Apa saja. Ada yang menceritakan Batu Termanu, Nemberala, Tangga 300, atau babi peliharaan. Ya, ternyata saran didengarkan. Ah, maafkan. Saya lupa nama sang anak. Ini akibat tidak segera ditulis. Kalau tidak salah ingat, Faldi.

Mereka tak ubahnya duta wisata Rote. Tak lupa juga mereka mengungkapkan cita-cita, memohon doa supaya bisa mewujudkan cita-cita.

“Bapak sekretaris, ayo maju,” Kak Franky senang sekali godain Pak Sekretaris a.k.a Ian Nautani.

***

Berjumpa dengan adik-adik semakin menyadarkan saya untuk berpikir lebih bijak. Hal yang saya pikirkan, belum tentu sama dengan apa yang mereka pikirkan. Terlebih lagi, adanya perbedaan latar belakang budaya dan pengalaman.

Setelah mengajar, kami berjalan-jalan. Foto bersama bapa asuh dan guru-guru yang baik hati mengantarkan kami ke mana pun.

Setelah mengajar, kami berjalan-jalan ke Waduk Manuwulu dan Batu Termanu. Foto bersama bapa asuh dan guru-guru yang baik hati mengantarkan kami ke mana pun. Justin, relawan dokumentator kami yang kece, kedua dari kiri (berdiri).

Tim Moklain di Batu Termanu

Salah satu rute yang harus dilewati kalau ingin ke kota.

Salah satu rute yang harus dilewati kalau ingin ke kota.

Hal yang saya ketahui, belum tentu mereka juga mengetahuinya. Hal yang mereka ketahui, belum tentu saya mengetahuinya. Akan tetapi, ketidaktahuan mereka akan menambah pengetahuan saya. Belajar menjadi setara dengan adik-adik, tetapi tidak menganggap mereka sama rata.

Adik-adik kelas 2 dan 4 sempat bingung menggunakan lem jenis stick. Sebagian adik-adik kelas 5 dan 6 pun ada yang tidak terbiasa menggunakan label. Mereka menulis nama justru pada bagian lembar kuning, bukan bagian kertas putih yang bisa ditempel. Ini semua justru mengingatkan saya agar tidak mengukur segala sesuatu dari takaran diri sendiri.

Bagi saya, menggunakan lem dan label hal yang biasa. Tetapi, tidak dengan adik-adik. Saya justru merasa tersentil. Lagi-lagi. Diri sendiri bukanlah menjadi takaran bagi orang lain. Dengan cepat, saya memberikan panduan lebih detail supaya kami bisa saling mengikuti.

9 April, pada sesi sharing orangtuamurid. Pukul 16.00 WITA, orangtua sudah berkumpul di halaman sekolah. Tidak ingin larut karena rumah mereka sangat jauh dan harus ditemouh dengan jalan kaki. Kami pikir, sesi sharing hanya dalam skala kecil. Ternyata tidak. Kami terharu. Sayangnya, lampu mati. Hanya bulan yang jadi penerang. Beberapa guru mulai cari akal untuk membungkus senter dengan kantong plastik, lalu digantung di atas tenda. Tapi, tiang penyangga tidaklah kuat. Sampai pada akhirnya, kami baru mulai sekitar pukul 19.30 WITA. [DOK JUSTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

9 April, sesi sharing orangtua murid (soal parenting maupun pendidikan). Kami terharu karena yang datang sangat banyak. Mereka juga membuatkan tenda, memosisikan kami sebagi layaknya pembicara seminar. Pukul 16.00 WITA, orangtua sudah berkumpul di halaman sekolah. Harapannya, acara dimulai lebih awal karena rumah mereka sangat jauh dan harus ditempuh dengan jalan kaki. Sayangnya, listrik mati. Hanya bulan yang jadi penerang. Beberapa guru mulai cari akal untuk membungkus senter dengan kantong plastik, lalu digantung di atas tenda. Tapi, tiang penyangga tidaklah kuat. Sampai pada akhirnya, kami baru mulai sekitar pukul 19.00 WITA. Lampu menyala. [DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Bersama mama dan bapa asuh (orangtua hostfam). Walau hanya tinggal 2 malam, perpisahan tetaplah terasa menyedihkan. [DOK JUSTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Bersama mama dan bapa asuh (orangtua hostfam). Walau hanya tinggal 2 malam, perpisahan tetaplah terasa menyedihkan. [DOK JUSTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Kami menari-nari lagi pada malam perpisahan.

Kami menari-nari Kebalai lagi pada malam perpisahan. Entah sampai berapa putaran. “Katong Samua Basudara” benar-benar ada. [DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Malam semakin larut. Besok, mereka harus sekolah lagi. Sebagian yang lain, semestinya sudah menjalani masa karantina untuk persiapan UN. Masuk ke dalam ruangan khusus, belajar, lalu istirahat. Tapi, mereka masih setia berada di lapangan sekolah. Inilah malam perpisahan kami dengan penduduk Desa Lidamanu, Rote Tengah.

Malam semakin larut. Besok, mereka harus sekolah lagi. Sebagian yang lain, semestinya sudah menjalani masa karantina untuk persiapan UN. Masuk ke dalam ruangan khusus, belajar, lalu istirahat. Tapi, mereka masih setia berada di lapangan sekolah. Inilah malam perpisahan kami dengan penduduk Desa Lidamanu, Rote Tengah. [DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Bicara cita-cita
Pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei kemarin, ada kutipan menarik. Tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang dibagikan @bincangedukasi. “Anak bukanlah kertas kosong. Anak yang dilahirkan boleh diumpamakan seperti sehelai kertas yang sudah ada tulisannya, tetapi semua tulisan itu kabur. Pendidikan berkewajiban menebalkan segala tulisan kabur yang berisi baik agar kelak nampak sebagai budi-pekerti yang baik. Sebaliknya, segala tulisan kabur yang bermakna buruk hendaknya dibiarkan agar jangan sampai menjadi tebal, bahkan semakin kabur”. Ini kembali mengingatkan saya kepada Rote Mengajar.

Sebagian dari adik-adik ada yang ingin jadi petani, guru, dan polisi. Ya, profesi yang justru tidak pernah tebersit di pikiran sewaktu kanak-kanak. Ini juga bagian dari pembelajaran. Tak sekadar menangkap “apa”, tetapi juga belajar memahami “mengapa”. Cita-cita mereka dipengaruhi latar belakang keluarga dan kondisi desa setempat yang memang lebih banyak menampilkan profesi-profesi tersebut.

Sementara itu, saya datang mengenalkan profesi penulis iklan (copywriter) kepada mereka. Meskipun demikian, kebebasan bermimpi dan bercita-cita adalah hak mereka. Saya hanya memberikan cerita yang barangkali belum pernah didengar sebelumnya. Menambah pilihan. Mereka tetap bebas menebalkan tekad atas apa yang telah diimpikan, baik cita-cita lama maupun baru.

Semoga perlahan-lahan mereka juga mulai bisa mengetahui hal-hal yang disukai dari aktivitas yang dilakukan selama di kelas. Misalnya, menulis, membaca, bercerita, atau bermain-main dengan gambar. Dengan mengenal hal-hal yang disuka, secara tidak langsung membantu mereka mengenal potensi diri.

Terlibat dalam kegiatan Rote Mengajar selama 8-11 April 2015 membuat saya belajar bahwa pendidikan membutuhkan peran banyak pihak, terutama guru, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan adalah urusan kita semua. Semakin sadar pula bahwa hidup tak melulu soal diri sendiri. Jika memang masih ada yang bisa dilakukan, mengapa harus bersusah payah untuk berpura-pura tidak peduli?

SEMANGAT MEREKA LUAR BIASA. Meski harus berjalan kaki dari rumah menuju sekolah, meski harus membawa dirijen kecil berisi air untuk mencuci kaki atau keperluan toilet, meski listrik tak melulu terus menyala sepanjang hari, semangat mereka begitu menginspirasi. [DOK JUSTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

SEMANGAT MEREKA LUAR BIASA. Meski harus berjalan kaki dari rumah menuju sekolah, meski harus membawa jeriken kecil berisi air untuk mencuci kaki atau keperluan toilet, meski listrik tak melulu terus menyala sepanjang hari, semangat mereka begitu menginspirasi. [DOK JUZTIN/RELAWAN DOKUMENTATOR]

Terima kasih, semesta.
Terima kasih untuk Rote Mengajar.
Terima kasih untuk semua pemberi pembelajaran selama perjalanan.
Semoga ada perjalanan yang terulang, kembali menuai pembelajaran.

Au sue Lote.
Berharap ada Rote Mengajar berikutnya.

*tulisan sebelumnya: Menuai Inspirasi dari Selatan Negeri (1)
** lihat cerita relawan Rote Mengajar lainnya di sini

Keterangan:

  1. Tiket Jakarta – transit Surabaya – Kupang (Bandara El Tari); Citilink. Berangkat pukul 04.10 WIB dan tiba pukul 09.30 WITA. Tiket Kupang – transit Surabaya – Jakarta; Citilink. Berangkat 10.00 WITA dan tiba pukul 12.55 WIB.
  2. Waktu tempuh Bandara El Tari-Pelabuhan Tenau: 35-40 menit.
  3. Sebelum ke Rote, saya bermalam di Kupang. Menginap di wisma yang disiapkan panitia, LPMP, dengan mengganti biaya penginapan.
  4. Akses penyeberangan Kupang-Rote ada dua kapal. Kapal lambat, mulai 05.30 dari Pelabuhan Bolok Kupang-Pelabuhan Pantai Baru. Kapal cepat Express Bahari, berangkat pukul 09.00, dari Pelabuhan Tenau Kupang-Pelabuhan Ba’a. Waktu tempuh 1,5-2 jam, tiba di Pelabuhan Ba’a. Harga tiket PP Rp 300.000.
  5. Hanya ada ATM BRI di Kota Ba’a, Rote.
  6. Provider Telkomsel berjaya di Desa Moklain, RoteTengah, termasuk jaringan internet. Tapi, ada kecamatan lain yang sama sekali kesulitan jaringan telekomunikasi dan listrik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s