Agats, Negeri Impian

Bersiaplah melihat pemandangan yang tak biasa dijumpai di Jakarta. Menyusuri sungai dengan perahu kecil, kiri-kanan hutan. Kalau sudah sampai, janganlah heran. Anak-anak bermain sepak bola di atas papan. Rekam keceriaan. Bagikan gula-gula juga ya… Pokoknya, Agats itu menyenangkan.


Begitulah ujaran Mba Adith, rekan kerja yang pernah ke Agats, ibu kota dari kabupaten Asmat, Papua. Terbayang juga foto-foto cantik hasil jepretannya yang pernah diperlihatkan dua tahun yang lalu. Mba Adith, dialah orang yang bersemangat ketika saya bercerita ingin pergi ke Timika menghampiri Long Distance Friendship (LDF), Dewi.

“Kalau sudah sampai Timika, harus ke Agats. Lebih dekat kalau berangkat dari Timika. Nyesel, deh kalau enggak sampai ke Agats!” Mbak yang satu ini memang sudah saya anggap sebagai travel consultan (sekaligus “kompor”) pribadi. Dia bisa memahami gaya melancong saya, apalagi setelah kami menikmati perjalanan penuh deadline Maluku-Banyuwangi-Bali kala itu.

Keputusan pun diambil. Saya hanya punya waktu selama 6 hari dengan tujuan Timika dan Agats. Keduanya adalah destinasi pertama saya. Pergi sendirian, bertemu Dewi, lalu pulang akan kembali sendirian. Jagoan? Ah, tidak juga. Saya degdegan. Drama sudah pasti ada. Namanya saja hal pertama.

Agats. Saya sudah memesan tiket berbulan-bulan sebelumnya. Mantapkan tanggal 25-30 Agustus 2015. Begitu percaya diri. Padahal, saya harus mengecek tiket keberangkatan Timika-Agats. Informasi akses kapal Pelni baru bisa didapat sekitar sebulan sebelumnya. Kalau melihat pola sebelumnya, hanya ada 1 jadwal rute TIMIKA-AGATS dan AGATS-TIMIKA dengan waktu tempuh semalam. Lainnya, berhari-hari. Itu pun, jeda jadwal berangkat dan pulang (dengan waktu tempuh 1 hari) mencapai lima hari. Glek.

“Jadwal pasti benar-benar harus menunggu sebulan sebelumnya, mba?” Mengeluarkan nada memelas pun tak akan berhasil. Itu sudah aturan dari sananya, kata petugas via telepon. Oke. Ketidakpastian mulai menyapa. Saya jadi ingat ketika saya dan Mba Adith melihat-lihat jadwal kapal dari Ambon menuju Banda Naira. Jadwal keberangkatan dan kepulangan berjeda 10 hari. Sungguh tidak cocok untuk perjalanan penuh deadline.

Sembari menunggu kepastian, saya mencari kepastian lainnya. Dari Timika, saya turun di mana? Lalu, bagaimana kalau sudah tiba di Bandar Udara Ewer? Naik apa? Menginap di mana? Seperti apa kondisi di sana? Saya harus bawa apa saja? Saya harus bersikap bagaimana agar tetap bisa menghargai mereka? Apa yang bisa saya lakukan di sana? Mba Adith, Mas Dodid, dan Romo Warno adalah sumber pencerahan selain hasil usaha walkblogging (meski tak banyak informasi yang didapat). Beruntung, romo paroki saya punya pengalaman tinggal di penempatan Keuskupan Agats. Jadi, informasi darinya bisa melengkapi. Kegelisahan mulai menemukan titik ketenangan.

“Tak perlu idealis, Gandes. Bagi mereka, kehadiranmu di sana sudah sangat berarti. Kamu meluangkan waktu, energi, bahkan dana sendiri untuk ke sana. Bacakanlah cerita untuk anak-anak di sana. Ajaklah mereka ngobrol. Itu sudah membuat mereka senang. Pergilah ke Agats, kamu akan seperti berada di negeri lain,” pesan romo setelah saya mengutarakan niat pribadi ke sana.

Akhir-akhir ini, saya ingin menambahkan agenda saat bepergian. Apa yang bisa saya lakukan ketika saya berada di suatu tempat? Apa yang bisa saya bagikan? Apakah hanya mengambil keindahannya atau ada cara lain yang bisa dilakukan? Namun, keinginan tetaplah harus diimbangi dengan kebutuhan. Bukan kebutuhan pribadi, melainkan kebutuhan mereka yang berada di tujuan.

Pesan romo kembali menyadarkan saya bahwa anak-anak mencintai kesederhanaan dan tak pernah menyederhanakan sebuah penghargaan. Dengan kehadiran, mereka bisa menghargai seseorang. Hal sederhana yang kerap dilupakan orang dewasa.

Persiapan ke Agats tak bisa tuntas dalam satu hari. Ditambah lagi, saya harus menghubungi beberapa pihak yang nantinya bisa membantu saat di Agats. Tinggal telepon? Iya, tinggal telepon. Panggilan atau SMS akan terjawab jika sinyal bersahabat. “Sabar ya… begitulah sinyal di sana,” romo mengingatkan. Kesenjangan tak hanya soal eknomi dan sosial, tetapi juga sinyal. Ah, seandainya ada fitur transfer sinyal.

Seiring berjalannya waktu, titik terang semakin jelas. Alternatif jadwal pesawat pun sudah di tangan sehingga bisa menjadi perbandingan.

Informasi penerbangan AGATS-TIMIKA (Pesawat Ama Airlines)
(hanya ada) Selasa dan Jumat (PP), sekali berangkat Rp 1.000.000—1.500.000

Jadwal kapal Pelni TIMIKA-AGATS
22 Agustus 2015, pukul 19.00 WIT—23 Agustus 2015, pukul 05.00 WIT
29 Agustus 2015, pukul 14.00 WIT—29 Agustus 2015, pukul 23.00 WIT

Jadwal kapal Pelni AGATS-TIMIKA
23 Agustus 2015, pukul 06.00 WIT—27 Agustus, pukul 16.00 WIT
27 Agustus 2015, pukul 06.00 WIT—27 Agustus, pukul 16.00 WIT
30 Agustus 2015, pukul 01.00 WIT—3 September, pukul 10.00 WIT

Oke. Saatnya reschedule jadwal keberangkatan. Beruntung, Garuda memberikan kemudahan bagi penumpang yang ingin mengubah jadwal. Cukup menghubungi operator via telepon, menyebutkan kode booking, lalu transfer biaya tambahan (jika harga tiket baru lebih besar dibandingkan harga tiket sebelumnya) via ATM. Jadi, keberangkatan sudah dimulai sejak 23 Agustus 2015 dini hari.

Awalnya, saya mau berada di Agats sejak 25-27 Agustus, kombinasi naik pesawat dan kapal. Tapi, Mba Adith bilang, waktunya nanggung banget karena saya sebaiknya bisa eksplor lebih jauh. Alhasil, rencana terbaik: PP dengan pesawat. Meski jadwalnya hanya dua hari dalam seminggu, setidaknya frekuensi terbang itu sudah patut disyukuri. Lebih baik ketimbang hanya ada seminggu sekali.

“Kalau mau booking, paling lambat, H-5 sebelum keberangkatan. Tapi, lebih awal, lebih baik. Ini pasti kan, Bu? Kalau Ibu memang tidak jadi, nanti kursi bisa untuk orang lain. Jam keberangkatan, satu hari sebelumnya nanti kami beri kabar lagi,” begitu katanya. Luar biasa, bukan? Jam keberangkatan dari Timika-Agats pun baru bisa didapat H-1. Kira-kira jam berapa ya? Pagi. Jam berapa? Ya, jam 8, 9, 10. Tergantung. Besok H-1, Ibu akan dikabari. Hmm… Oke. Ketidakpastian kembali menyapa.

Lalu, hari yang ditunggu pun tiba. Informasi keberangkatan sudah didapat. Dewi sempat ragu untuk pergi ke Agats. Saya pun mau tak mau siap untuk pergi piyambakan menuju Agats jika memang harus pergi sendiri. Bagaimana pun, saya sudah dibantu informasi oleh banyak pihak. Tetapi akhirnya, sahabat saya ikut pergi.

Tiba di Bandara Moses Kilangin, kami sendiri tak tahu harus menunggu di mana. Bertanya kepada petugas, kami diarahkan ke jalur reguler. Saat periksa barang, ternyata langkah kami keliru. Kami seharusnya menunggu di bandara yang ada di seberang, khusus penerbangan dengan pesawat perintis. Dengan hahaha, kami pun keluar sesuai dengan arahan petugas lainnya. Wah, terlihat sekali bukan warga asli.

Berpindah bandara. Kami mencari loket Ama Airlines untuk melakukan konfirmasi nama penumpang. Sempat bingung karena barisan loket kecil seolah-olah sedang tutup. Lalu, ada sosok bapak tua yang menghampiri. Kami pun mengatakan bahwa sudah memesan tiket Ama Airlines. Ia mengajak masuk ke dalam bandara.

Bangunan  yang satu ini ruangannya lebih kecil dibandingkan bandara utama. Setelah melewati pemeriksaan barang, terlihat para mama dan bapa sudah mengantre untuk menimbang barang-barangnya. Noken para mama besar-besar sekali. Pantas saja seorang teman mengatakan bahwa noken bisa kuat untuk membawa sayur-sayuran hingga bayi meski sekilas terkesan ringkih karena terbuat dari benang.

IMG_0107.JPG

IMG_0105.JPG

Sebagian pesawat perintis terlihat parkir di landasan. Kalau saya, wira-wiri naik angkutan kota atau bus. Kalau mereka, harus wira-wiri dengan pesawat terbang. Sudah pasti biaya akan lebih mahal. Itu pun jadwalnya belum tentu setiap hari. Bersyukur bisa menikmati fasilitas angkutan kota yang nyaris 24 jam.

Di dalam pesawat bisa duduk bersama hewan peliharaan, kalau hujan bakal terasa banget, angin sudah pasti membuat pesawat bergoyang. Cerita Mba Adith langsung terbayang kembali. Ada yang terlewat untuk diceritakan. Berat tubuh dan barang bawaan ikut ditimbang. Berat total tersebut akan dikenai biaya, lalu ditambahkan lagi dengan biaya tiket. Dibayar tunai, on the spot! Iya, langsung di tempat. Takut juga kalau-kalau uang dibawa ternyata tidak cukup. Hehehe…

Di bandara, kami berdua bertemu dengan salah satu pastor dari Keuskupan Agats, seperti yang dipesankan pastor kepala, “Ada pastor kami yang berangkat juga dari Timika. Nanti Gandes bisa bertemu di bandara. Ciri-cirinya? Ah, nanti gampang. Gandes lihat saja laki-laki yang pakai kalung salib besar.” Walau sempat ragu, ternyata saya berhasil melihat sang pastor. Sesederhana itu untuk mengenali seseorang. Di Tangerang maupun Jakarta, tak semua pastor menggunakan kalung salib besar, terlebih lagi saat tidak sedang menggunakan jubah.

Lebih tenang karena bersama orang yang mengerti Agats. Saatnya bergegas di ruang tunggu. Membayangkan seperti apa bentuk pesawat yang akan ditumpangi. Pengalaman seperti apa saat berada di dalam pesawat. Seperti apa suasana Agats. Degdegan tetaplah ada.

Menit demi menit. Semakin menuju waktu keberangkatan, pukul 10.00 WIT. Pastor yang bersama kami tiba-tiba keluar dari ruang tunggu. Tak lama kemudian, ia memanggil kami. “Gandes! Kita tidak jadi berangkat!” Saya dan Dewi sempat hening sejenak, lalu tertawa. Kami bingung.

IMG_0435.JPG

DI RUANG TUNGGU. Tiba-tiba pastor memanggil. Kami mendadak batal ke Agats karena sang pilot terkena malaria. Kami kaget, lalu tertawa. Bukan menertawakan sang pilot yang ada di depan mata. Ya, pilot ada di hadapan kami dan minta maaf karena tak bisa terbang. Ternyata, bagian ketidakpastian hidup dan kejutan-kejutan kecil di antaranya masih membuat kami tertawa. Ketika hidup tidak berjalan seusai dengan rencana, maka jalani saja. Tuhan yang jadi penulis cerita. Itu sudah.

“Begitulah, Gandes. Selamat datang di Papua. Semakin kamu ke timur, semakin menghadapi daerah terpencil, semakin pula ketidakpastian. Inilah yang kami rasakan setiap hari.” Keluar dari bandara, saya menelepon pastor kepala setelah menghubungi Mba Adith.

Ujaran pastor membuat saya kesal. Kesal karena baru sadar mengapa perhatian pemerintah hanya tertuju kepada transportasi sejenis pesawat komersial? Bagaimana dengan pesawat-pesawat perintis yang sebenarnya jadi transportasi utama di daerah lain? Mengapa pesawat tak bisa terbang setiap hari? Bagaimana dengan ketersediaan SDM untuk mengoperasikannya? Mengapa pilot yang sakit bisa memengaruhi jadwal penerbangan? Apakah tak ada pilot lain? Kesal. Ini terjadi di 2015.

Di balik itu, saya bersyukur. Bersyukur karena masih bisa mendapatkan banyak pilihan, mengurangi ketidakpastian. Meski sopir angkot sakit, saya masih bisa naik angkot lainnya. Meski sopir angkot demo mogok, masih ada ojek, bahkan taksi. Masih ada pilihan-pilihan yang tersedia.

Lalu, bagaimana Agats?
Perjalanan kali ini tidak sampai ke Agats. Waktu saya tak banyak dan pilot sendiri tak bisa menentukan kapan jadwal keberangkatan selanjutnya. Agats, bersama dengan Banda Naira, menjadi “negeri” impian yang belum kesampaian hingga sekarang. Sungguh lucunya negeri ini. Tempat-tempat yang dimiliki wilayah sendiri justru begitu sulit dijangkau, akses transportasi yang tak pasti. Sedangkan destinasi luar negeri, segalanya bisa dipastikan. Bahkan, bisa dikunjungi berkalik-kali. Bak mutiara di pelupuk mata tak tampak, batu akik di seberang lautan begitu tampak.

“Lalu, pergi ke mana? Semoga tetap bisa menemukan arti dari perjalananmu berikutnya,” pesan Romo Warno. Saya dan Dewi berputar arah menuju Jayapura. Saat itu juga, dalam waktu kurang dari 15 menit, kami memutuskan untuk lanjut ke Jayapura.

Ada kecewa. Apa yang telah dipersiapkan memang belum tentu menghasilkan sesuatu yang memuaskan. “Manusia hanya berencana, Tuhan yang menentukan” itu benar adanya. Tapi, tenanglah. Semesta masih punya kejutan berikutnya. Datang dengan niat baik, akan disambut dengan kebaikan pula. Di Jayapura, perjalanan semakin bermakna. Banyak pelajaran, bahkan kehangatan dari Bumi Cenderawasih. Seperti apa? Tunggu tulisan berikutnya🙂

2 thoughts on “Agats, Negeri Impian

  1. Halo Gandes, ayo ke Agats yuwkkk 6-12okt2016 ada festival asmat, pengen liat euyy….. Bingung ama transportasi ke sono😥
    Punya contact person utk tanya2 jdwl pelni n jadwal pesawat ama ngga…???
    Itu pesawat emang H-1 gitu yaaa bayarnya…??? Udah gitu hari H nya bisa tiba2 batal pula hikss….. 😭😭😭😭
    Klo pelni or alternatif lainnya gimana ya…???

    • Halo, Mba Dians999… makasih banyak sudah mampir.
      Pengen banget nonton Festival Asmat tahun ini, tapi belum bisa piknik jauh lagi. Hehehe…
      Kalau jadwal Pelni, bisa telepon ke petugas Pelni langsung: 021-162 (kalau via HP). Kontak lengkap, bisa cek di https://www.pelni.co.id/.

      Untuk kisaran jam berangkat pesawat perintis, sebenarnya bisa diprediksi sekitar jam berapa. Namun, benar-benar sudah pasti jamnya kira-kira H-1. Kalau pembayaran pesawat, memang on the spot. Tapi, pesawat tetap harus booking dulu jauh-jauh hari. Semoga pada hari-H sang pilot nanti sehat-sehat saja sehingga tak perlu batal terbang. Cuaca pun mendukung. Untuk kontak pemesanan pesawat, akan saya update lagi ya Mba. Masih mencari di data kontak yang lama. Huhuhu

      Kalau pakai kapal, durasi perjalanan tentu akan lebih lama dibandingkan naik pesawat perintis. Kalau waktunya cukup dan kondisi laut bersahabat, mungkin bisa pakai kapal. Jadwal terbaru kapal, bisa kontak petugas Pelni langsung ya Mba… Bisa tanya spesifik tanggal tertentu. Semoga rencana ke Agats bisa terlaksana, Mba Dian🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s