Kebaikan dari Jayapura

Agustus 2015. Ini perjalanan ke Papua yang pertama kali. Perasaan takut, khawatir, dan penuh “jangan-jangan” sering terlintas di pikiran. Jangan-jangan saya terkena malaria, jangan-jangan nanti saya tidak bisa lekas akrab dengan warga sekitar, jangan-jangan saya menjadi wisatawan yang tidak menyenangkan. Tetapi, saya ingat pesan Mama, “Jika kau datang dengan niat baik, nanti akan mendapat kebaikan pula.” Ternyata, terbukti. Kekhawatiran-kekhawatiran itu sirna berkat banyak kebaikan yang saya rasakan.

Selama tiga malam di Jayapura, saya bersama sahabat, Dewi, mendapat kebaikan dan kehangatan, bahkan dari orang-orang yang tak terduga.

  1. Lelaki Tua dan Mangga

Hari pertama tiba di Jayapura. Kami berdua diajak makan bakso sambil minum es kelapa. Di depan mata terhampar lautan dan pulau-pulau kecil. Asyik mengobrol ini-itu, tiba-tiba ada tangan besar yang meletakkan mangga di meja kami. Saat menoleh ke belakang, sosok itu sudah berjalan menjauh. Salah satu tangannya memegang bucket kecil yang berlogo merek makanan cepat saji.

“Hehehe… itu ada mangga untuk adik.” Seorang lelaki tua tersenyum kepada kami. Namanya Bapa Eli. Mangga yang ia berikan berasal dari kebun rumahnya. Wangi sekali, seperti mangga arum manis.

Bapa Eli bertanya asal kami. “Sa dulu juga kerja di Jakarta. Su pensiun, kembali ke sini. Kata orang-orang kampung, saya ini kerja jadi tentara di Jakarta… Hahaha…” Meski rambutnya telah memutih dengan rata, postur tubuhnya tetaplah bugar. Tinggi, besar. Ternyata, ia seorang pensiunan pegawai negeri.

IMG_8903-1

“E sa jangan difoto…” Katanya sambil tersenyum. Saya membujuk. Ingatan manusia begitu terbatas. Izinkan saya merekam wajah Bapa Eli agar kelak jika saya kembali ke Jayapura, bisa terus mengingat kebaikan Bapa. Ia pun mengizinkan. Senyum hangatnya tetap diberikan kepada kami dengan tulus. Terima kasih, Bapa Eli…

  1. Lelaki Tua dan Kapal Kayu

Hari kedua di Jayapura, saya benar-benar pergi berdua dengan sahabat saya, Dewi. Tentunya, bersama Pak Driver. Kami sengaja memanfaatkan satu hari penuh untuk mengeksplorasi area Depapre yang memiliki banyak pantai. Mirip ketika kita berjalan-jalan ke kawasan Kulon Progo. Hehehe…

Salah satu pantai yang jadi sasaran adalah Tablanusu. Kami mengandalkan petunjuk jalan yang ala kadarnya dan GPS alias Gunakan Penduduk Sekitar. Memasuki kawasan pantai, kami sempat bingung ketika ingin parkir mobil. Alhasil, adegan muter-muter dilakoni.

Berkat adegan muter-muter, kami justru menemukan sebuah kios mungil di area permukiman penduduk dekat pantai. Di samping botol berisikan bensin, ada beberapa miniatur perahu kayu yang digantung. “Kita harus mampir ke sana!” Kami berdua punya pemikiran yang sama.

IMG_0117-1

Saat menghampiri kios itu, seorang laki-laki tua menyapa kami. Namanya Bapa Agustinus. Kedatangan kami kala itu tepat satu hari sebelum usianya 90 tahun.

Awalnya, Bapa Agustinus bekerja sebagai nelayan. Karena usianya tidak lagi memungkinkan untuk melaut, ia membuat kerajinan sendiri dari kayu. Perahu, tifa, dan garpu papeda.

IMG_0118-2

Bagian yang membuat kami tercengang, Bapa Agustinus menyematkan ukiran di perahu kayu. Ukiran yang sarat makna. Sayangnya, tak banyak yang saya ingat (akibat terlalu lama tidak ditulis).

Biasanya, ia memasukkan simbol-simbol yang ada di laut atau hutan. Ini sesuai dengan tempat tinggal Bapa Agustinus. Salah satu perahu memiliki gambar iklan layaran dan penyu. Di ujung perahu, ada burung yang katanya suka hinggap di perahu nelayan saat mencari iklan. Seolah-olah burung itu menjadi pemandu jalan. Ah, setiap karya Bapa Agustinus seolah-olah mempunyai nyawa.

Sayangnya, Bapa Agustinus belum berhasil menurunkan kemampuannya ini kepada anak-cucu. Sebagian besar anak-anak muda sekitar lebih senang menjadi PNS. Sudah pernah mencoba dengan melatih mereka, tetapi putus di tengah jalan. Rasanya, kami ingin mengajak Bapa Agustinus berbagi ilmu di kota tempat tinggal kami.

IMG_0137-6

Bahan-bahan yang digunakan. Bapa Agustinus memilih jenis kayu susu karena kayunya cenderung berwarna putih. Jika diberi motif, warna semakin jelas.

IMG_0138-7

Alat sederhana untuk membuat karya yang istimewa.

Perahu kayu jadi buah tangan kami. Dewi juga membeli tifa. Penentuan harga tiap hasil ukiran tidak begitu kompleks. Bapa Agustinus hanya membaginya dengan kelipatan Rp 50.000. Ukuran benda yang sedikit besar dihargai Rp 100.000.

IMG_0140-8

Bapa Agustinus, istri, dan kios mereka.

Bapa Agustinus begitu baik. Tadinya, kami malah mendapat potongan harga. Tetapi, kami tidak bersedia. Sangat sangat sangat disayangkan jika karya seapik ini mendapat potongan harga. Semoga Bapa Agustinus tetap semangat untuk terus menularkan kemampuannya kepada generasi penerus.

  1. Adik-adik dan Terowongan Pasir

Masih di kawasan Depapre, kami pindah ke pantai lainnya. Harlem! Serunya main ke pantai itu bukan hanya karena terkesima dengan kecantikan alam. Bakal merasa lebih beruntung kalau kita bisa menyapa penduduk sekitar. Jadi banyak belajar.

IMG_0188-11

Di Pantai Harlem, saya bertemu dengan jagoan-jagoan ini. Rumahnya dekat dekat pantai. Lagi-lagi saya lupa nama mereka akibat terlalu lama tidak langsung menuliskannya. Kala itu, mereka lagi asyik membuat terowongan di pasir. Masing-masing anak membuat terowongan yang paling dalam. Katanya, sesekali ada kepiting yang terlihat saat mereka menggali pasir.

IMG_0189

IMG_0183-9

“Wah, siapa nih terowongannya yang paling dalam?”

“Dia!” tunjuk bocah paling kecil kepada temannya yang paling besar. Yang lain masih menggali, dia hanya duduk mengamati.

“Kenapa terowongannya bisa paling dalam?”

“Karena tangannya panjaaaang…” Semuanya tertawa.

IMG_0185-10

Saat menyapa pertama kali, mereka sedikit sungkan dan malu-malu. Tapi, lama-kelamaan mereka mau diajak ngobrol. Yang saya ingat, dua di antara mereka ada yang bercita-cita menjadi guru dan dokter. Sayang sekali, gula-gula tidak sempat terbawa.

IMG_0193-12

“Embaaaakk…” Setelah mengambil gambar mereka dari kejauhan, si anak perempuan melambaikan tangan kepada saya. Lalu, diikuti senyuman hangat dari anak-anak lainnya. Ah, senangnya…

  1. Mama-mama dan Papeda

Pada hari ketiga, kami berdua benar-benar marathon pantai di kawasan Depapre. Mulai dari Tablanusu hingga Harlem. Dari pagi hingga lewat dari pukul 14.30 WIT. Sulit sekali menemukan warung makan sepanjang jalan. Pilihannya, balik ke kota atau lanjut satu pantai lagi, Amai. Karena alasan nanggung, saya menyarankan agar lanjut satu pantai lagi. Sebentar saja. Padahal, perut sudah keroncongan, nyaris jatilan.

Berjalan-jalan dengan perut lapar memang tidak sepenuhnya nyaman. Namun, kami tetap menikmati perjalanan karena sejatinya kami lebih lapar piknik. Biarkan aroma pantai yang memuaskan kami.

Tiba di pantai, kami bertemu rombongan Mama-mama di salah satu pondok yang berada di pinggir pantai. Kami pun saling menyapa. Mereka merupakan anggota dari LSM perempuan yang biasa mengadakan kegiatan di Pantai Amai. Ya, saat itu terlihat kegiatan penyuluhan tentang AIDS yang diberikan untuk penduduk sekitar, baik yang ODHA maupun keluarga ODHA. Pemandangan tak biasa saya lihat ketika pergi ke pantai. Menurut seorang Mama, warga dibekali pengetahuan dan diberikan pengarahan agar tetap aktif melakukan aktivitas yang menjadikan dirinya lebih berdaya.

IMG_0277-15

IMG_0250-14

Ikut bermain bersama adik cantik yang ramah dengan semua orang.

IMG_0257-1

Si adik yang lincah ini gampang akrab dengan orang baru. Kami pun makin senang bermain dengannya.

Tak sekadar menyimak cerita Mama-mama, kami sangat beruntung karena ditawari papeda oleh mereka! Puji Semesta! Tentunya, jadi senang bukan kepalang. Kami langsung mengiyakan. Hehehe…

“Maaf, Mama… Sebenarnya, kami kelaparan. Syukurlah, Mama tawarkan kami papeda…” Hahaha… Memang jujur sekali. Tapi, kami benar-benar bersyukur. Mama-mama itu sungguh baik. Lauk ikannya pun enak sekali.

IMG_0249-13

Papeda buatan Mama-mama yang jadi penolong pertama pada kelaparan.

“Ayo, tambah, kakak. Lauknya juga. Atau, mau papeda lagi kah? Ini masih ada.” Kami juga menawarkan Pak Driver untuk makan siang karena perjalanan ke kota cukup memakan waktu. Tetapi, Pak Driver enggan untuk makan bersama. Mama-mama itu tetap membungkus papeda satu porsi. Kami siapkan untuk Pak Driver kalau-kalau ingin menyantap di jalan.

Sepanjang perjalanan menuju kota, saya jadi ingat kisah 5 roti dan 12 ikan. Terima kasih banyak, Mama-mama…

  1. Ibu-ibu Guru

Perjalanan selama di Jayapura tak akan terasa menyenangkan tanpa bantuan dua ibu guru dari Sekolah Papua Kasih, Ibu Tiur dan Ibu Evi—yang ternyata juga berasal dari Tangerang. Perjalanan go show ini luar biasa sekali. Saya dan Dewi dapat tempat tidur dan jemur gratis. Hehehe…

IMG_0285-16

Lebih menyenangkan lagi, saya jadi ikut belajar tentang dedikasi mereka dalam dunia pendidikan. Berjuang membuat sekolah sendiri bagi anak-anak Papua walau domisili mereka sebenarnya jauh dari Jayapura. Sebelum tidur, selalu ada cerita menarik, termasuk soal metode pembelajaran yang bisa diterapkan untuk anak-anak Papua. Saya belajar banyak.

IMG_0299-17

(Ki-ka) Dewi, Ibu Tiur, dan Ibu Evi di Pantai Hamadi. Saya dan Dewi “menculik” dua ibu guru ini setelah mereka mengajar.

IMG_0304-18

Selain Ibu Tiur dan Ibu Evi, saya juga dikenalkan dengan Ibu Helen yang juga mendedikasikan diri dalam dunia pendidikan. Obrolan saya dan Ibu Helen tersimpan di sini. Saya semakin yakin bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang berbeda-beda, bukan untuk dibanding-bandingkan.

Terima kasih untuk ibu-ibu guru yang penuh kasih. Tetap semangat mendidik…

 

Inilah sosok-sosok yang saya jumpai selama di Jayapura. Mereka memberikan kebaikan dan kehangatan selama perjalanan. Sungguh menyenangkan. “Katong samua basudara” bukanlah jargon belaka, melainkan sebuah kebenaran. Bisa terjadi di semua titik Nusantara. Terima kasih, semesta…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s