Maraton Pantai di Jayapura

Belum berjodoh dengan Agats, saya memilih Jayapura sebagai tujuan baru. Sempat terlintas, Merauke dan Wamena. Tetapi, lebih memungkinkan saya dan Dewi berkunjung ke Jayapura. Sebelumnya, ia sudah pernah mampir. Terlebih lagi, Dewi memiliki teman yang tinggal di sana. Teman baik hati yang bersedia direpotkan oleh kami.

Keluar dari bandara kecil, kami menuju bandara komersial. Memesan tiket Timika–Jayapura. On the spot! “Memangnya bisa pesan gitu aja, Dew?” tanya saya sedikit ragu. Anehnya, kami masih saja tertawa-tawa karena tidak jadi berangkat ke Agats. Ditambah lagi, kami membeli tiket pesawat tanpa memesan lebih dulu. Bayar, langsung berangkat. Pas sekali! Ada bangku kosong dan kurang dari 30 menit, pesawat akan tiba! Makin tertawalah kami berdua. Inilah petualangan kami berdua yang pertama kali. Benar-benar dalam misi pelesir.

Oke. Perjalanan penuh keajaiban pun dimulai.

Hari #1
Menikmati Jayapura dimulai dari 25 Agustus 2015. Kami punya waktu 4 hari, 3 malam. Jadwal ini memanfaatkan slot waktu yang seharusnya kami habiskan di Agats. Sembari menunggu pesawat, saya mulai browsing tempat-tempat wisata di Jayapura. Ya, itinerary baru dipikirkan. Namanya juga go show.

Tiba di Jayapura, kami disambut oleh Ibu Tiur dan Ibu Evi. Mereka juga membantu merekomendasikan Pak Driver yang nantinya bisa mengantar kami ke mana saja. Hari pertama benar-benar dimanfaatkan untuk menyusun rute. 80% pantai! Mari kita maraton!

Hari #2
Perbatasan
Sejujurnya, saya benar-benar buta arah. Ini kunjungan yang pertama kali. Petunjuk hanya mengandalkan informasi di internet dan Google Maps. Itu pun kalau sinyal sedang bersahabat. Pak Driver pun bukan asli orang Papua. Alhasil, GPS terbaik ya penduduk sekitar.

Tujuan pertama, perbatasan Papua New Guinea (PNG)–RI. Letaknya di Desa Skouw, Distrik Muara Tami, Jayapura. Kawasan ini dijaga ketat oleh tentara. Tapi, tidak usah terlalu cemas. Jika kondisi perbatasan memungkinkan dikunjungi oleh wisatawan, siapa pun tetap bisa masuk.

FullSizeRender (13)

Senang banget bisa dapat SMS seperti ini saat tiba di perbatasan. Hahaha…

Apabila ingin memasuki kawasan perbatasan, sampaikan saja kepada petugas yang berjaga. Mobil yang melintas wajib membuka kaca mobil. KTP pun diserahkan kepada petugas yang berjaga. Jika sudah selesai berkunjung, KTP akan dikembalikan.

IMG_8932-DOK Cecilia Gandes

Sayangnya, kala itu kami tidak bisa melewati perbatasan hingga menjejakkan kaki sampai di Papua New Guinea. Per Agustus 2015, ada aturan baru. Hanya ada hari-hari tertentu area tersebut bisa dilintasi umum. Jika ingin singgah di Papua New Guinea kapan saja, siapkan saja passport.

Pantai Holtekamp
Setelah dari perbatasan, kami menuju Pantai Holtekamp. Lokasinya di Muara Tami, Jayapura. Masih sejalan dengan titik perbatasan PNG. Kala itu, pantainya sangat sepi. Hanya ada sepasang kekasih yang sedang berteduh di pondok dan dua wisatawan berjalan-jalan. Ada informasi biaya parkir, tetapi tidak ada penjaganya. Berada di pantai ini, kita bisa melihat perahu-perahu nelayan yang sedang berlabuh.

IMG_9009-13

Bukit MacArthur
Petualangan hari pertama memang tidak banyak mengenal pantai karena kami menyesuaikan dengan jarak. Sebelum benar-benar sore, kami menuju Bukit MacArthur yang berada di Ifar Gunung, Sentani. Dari bukit ini, bisa terlihat Danau Sentani yang cantik sekali sekaligus bandara Sentani.

Saya pernah membaca komentar seseorang terhadap postingan mengenai Bukit MacArthur di media sosial. Kira-kira beberapa minggu yang lalu. Katanya, “Cakep di foto. Biasa saja.” Hmmm… kalau bagi saya, pemandangan di sini menenangkan, terutama sebelum banyak wisatawan yang datang.

Meski matahari begitu terik, tetap bisa terasa teduh. Apalagi, melihat hamparan warna hijau dan biru yang berpadu. Mungkin, karena saya termasuk orang yang gampang bahagia, jadi rasanya senang sekali bisa melihat pemandangan seperti itu. Ditambah lagi, tidak bisa setiap hari melihatnya. Bagi saya, pemandangan di Bukit MacArthur lebih dari biasa.

IMG_9075-edit

Tak soal keindahan, tetapi juga ada cerita sejarah di bukit ini. Kita bisa melihat tugu yang berada di tengah-tengah area. Menjadi tanda bahwa kita sudah berada di Bukit MacArthur. Di sebelah kiri, ada juga Ruang Informasi alias museum mini yang menyimpan foto-foto MacArthur dan dokumen-dokumen yang merekam peristiwa mendaratnya pasukan AS di Jayapura, yang dulu bernama Hollandia. Spot situs-situs sejarah yang tersebar di Papua juga diinformasikan.

Saat masuk ke dalam museum, saya bertemu Pak Hans. Laki-laki tua ini merupakan pegawai Pemerintah Provinsi Papua yang ditugaskan menjaga dan merawat Situs Sejarah Tugu MacArthur. Biasanya, ada dua petugas yang menjaga. Akan tetapi, jika Pak Hans tidak ada, museum bisa saja ditutup. Kawasan ini dibuka pada pukul 08.00 hingga 18.30. Banyak wisatawan yang senang melihat senja. Turis asing pun kerap berdatangan, mulai dari negara AS, Inggris, dan Belanda. Wisatawan dapat mengisi buku tamu di dalam museum dan membayar biaya retribusi secara sukarela.

Bukit Pemancar
Sebelum benar-benar gelap, kami ngebut ke Bukit Pemancar! Beberapa orang mengenalnya dengan nama Pemancar Polimak karena lokasinya ada di daerah Polimak. Saya benar-benar tidak punya petunjuk tentang tempat ini. Hanya mengikuti rekomendasi dari Pak Driver yang juga tak hapal betul lokasinya persis. Yasalam. Hahaha…

Sebenarnya, Bukit Pemancar bukanlah obyek wisata resmi. Bukit ini hanya menyediakan pemandangan tiang-tiang pemancar stasiun televisi. Kesan pertama, tempatnya biasa saja. Bahkan, saya tidak paham mengapa lokasi ini jadi idola wisatawan.

Tetapi, cobalah melangkahkan kaki ke tiang-tiang oranye. Hati-hati. Perhatikan langkahmu. Lalu, lihatlah yang ada di depan mata.

Lihat pula yang ada di bawah. Wow! Kita bisa melihat Jayapura dari ketinggian. Sangat-sangat menguji adrenalin. Ini mengalahkan sensasi naik rollercoaster.

2210-Ragam wisata-Jayapurawood-DOK Cecilia Gandes

IMG_0164-3

Di balik pose tampak bahagia ini ada kesulitan tiada tara untuk memegang ponsel. Kami memang tak berbakat wefie.

Kalau menoleh ke belakang, kita bisa melihat tulisan “Jayapura City” ala tulisan Hollywood. Di sisi sebelah kiri, ada tulisan di sebuah tembok, “Stop Miras di Tugu Salib”. Tugu Salib? Ya, di bagian atas terlihat tugu salib besar. Katanya, tulisan Jayapura City dan Tugu Salib akan menyala pada malam hari. Sinarnya akan terlihat dari kota.

Nyaris pukul 18.00. Kami mulai diperingatkan untuk menjauh dari tiang-tiang tulisan Jayapura City karena jelang jadwal penyalaan lampu. Sengatan listrik begitu besar. Namun, tak lama kemudian, kami diberi tahu bahwa listrik sedang bermasalah. Alhasil, tulisan itu tidak jadi menyala. Sampai gelap, kami tetap betah berada di atas. Tak lupa, tambah oles-oles lotion antinyamuk.

Hari #3
Hari ketiga, waktunya explore Depapre! Setelah browsing kembali, ternyata pantai-pantai di Jayapura juga terpusat di sepanjang daerah Depapre. Kira-kira membutuhkan waktu tempuh 90–120 menit dari pusat kota. Waktu tempuh yang sebenarnya. Tanpa macet.

Pantai Tablanusu
Atas dasar prinsip “kira-kira”, Pantai Tablanusu jadi tujuan pertama. Pantai ini unik karena lebih banyak bebatuan ketimbang pasir putih. Nuansa biru begitu kentara. Anginnya menyejukkan. Kami berdua kegirangan. Teriak-teriak, lompat-lompat. Foto-foto, jelas.

IMG_0098-edit

Kaki mulai menyusuri tepi pantai yang beralaskan kerikil. Langkah memang harus lebih berhati-hati karena besarnya batu tidaklah sama. Ketika mata jauh memandang ke arah seberang, terlihat lanskap Pegunungan Cyclop. Begitu meneduhkan meski mentari mulai meninggi. Kecantikan pemandangan ini juga bisa dinikmati sembari duduk santai di pondokan atau berkelana dengan menyewa perahu nelayan.

Selain terpesona dengan pantainya, kami semakin kagum saat bertemu dengan Bapa Agustinus. Penduduk lokal ini menjual kerajinan tangan berupa miniatur perahu kayu. Bagian inilah yang tidak kami dapatkan via internet. Beruntung bisa bertemu Bapa Agustinus. Cerita tentang Bapa Agustinus ada di curhatan yang lain.

Pantai Harlem
Tak berlama-lama di Tablanusu, kami berpindah ke Pantai Harlem sebelum lewat pukul 12.00. Letak dermaganya tidak jauh, bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 30 menit. Namun, pantai hanya bisa ditempuh melalui jalur laut, berangkat dari Dermaga Depare. Tersedia kapal cepat sewaan untuk perjalanan pergi dan pulang.

IMG_0228-edit

Karena air laut surut, maka wisatawan naik perahu dari dermaga ini, bukan dermaga pusat.

Bersiaplah menikmati suguhan alam saat melintasi Laut Depapre yang berhadapan langsung Samudra Pasifik. Kurang dari 30 menit, pesona pantai mulai terlihat dari kejauhan. Hamparan pasir putih berpadu dengan air berwarna biru kehijau-hijauan. Semakin mendekati bibir pantai, air semakin jernih. Tampak jelas aneka biota laut dan ikan-ikan kecil yang tak ubahnya memberikan tarian penyambutan.

IMG_0158-edit

IMG_0155-edit

Pantai berpasir lembut tanpa kerikil ini menjadi surga bagi para penyuka snorkeling dan diving. Wisatawan dapat memanfaatkan fasilitas pondokan dan kamar mandi. “Pada musim liburan, banyak pengunjung membawa tenda untuk berkemah. Ayolah, menginap semalam. Di sini justru tidak ada nyamuk,” ujar salah satu warga sekitar sembari tersenyum.

Pantai Amai
Hari semakin siang. Jangan menyerah dulu. Masih ada satu pantai yang tak boleh dilewatkan di kawasan Distrik Depapre, yaitu Pantai Amai. Mengikuti papan petunjuk dan arahan penduduk lokal, kami bisa menemukan lokasi pantai. Waktu tempuh dari titik dermaga Pantai Harlem sekitar kurang dari 60 menit.

IMG_0237-11

Situs Sejarah Kilang Minyak saat perjalanan dari Pantai Harlem menuju Pantai Amai.

Dari area parkir, kami masih harus berjalan kaki hingga menemukan tepi pantai. Tenang saja. Tidak jauh, kok jalannya. Sembari jalan, kami melihat rumah-rumah penduduk berbentuk rumah panggung.

Tiba di pantai, terlihat sekumpulan warga di pinggir pantai. Mereka seperti sedang mendapatkan pengarahan dari seseorang. Apakah ini acara piknik orangtua murid atau kegiatan forum diskusi?

IMG_0271-14

Di sisi kanan kami, terlihat beberapa pondok yang berjajar. Sebagian pondok telah terisi warga lokal, termasuk pondok terdekat. Mama-mama duduk berteduh. Salah satu dari mereka sibuk mengeluarkan makanan dari kantong plastik besar. Kami pun ditawari untuk menyantap makanan yang mereka bawa. Pas sekali! Kami kelaparan. Hehehe…

Papeda, lauk ikan, dan sayur jadi pengganjal perut kami. Nikmat sekali. Kami bersyukur bisa bertemu dengan Mama-mama di Pantai Amai. Pertolongan mereka saya tulis dalam Kebaikan dari Jayapura.

Pantai Amai menjadi lokasi “maraton” terakhir di kawasan Depapre. Sebelum semakin sore, kami segera menuju kota. Rencananya, kami akan menjemput ibu-ibu guru Sekolah Papua Kasih. Sekalian mengajak mereka mengejar senja. Ya, sayang sekali jika tidak merekam senja di Jayapura. Kaki memang terasa lelah karena sudah bepergian sejak pagi, tapi kapan lagi saya akan ke sini? Ketika ada waktu jeda, ingin rasanya teleport ke sana kemari.

“Kalau Danau Love, itu jauh atau dekat?” tanya saya kepada Pak Driver setelah bertanya tentang spot senja yang ciamik. Sepanjang perjalanan menuju kota, saya browsing mencari tempat-tempat yang bisa jadi sasaran berikutnya. Danau Love atau Danau Emfote mengundang penasaran. Jika dilihat dari atas, danau ini berbentuk menyerupai simbol love. Lokasinya di Sentani Timur.

“Kalau kita ke sana, mungkin sudah gelap. Tidak dapat matahari,” kata Pak Driver. Kala itu, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Sementara itu, perkiraan waktu terbaik tiba di danau tersebut adalah pukul 15.30–17.00. Jika dipaksakan tetap berangkat, bisa-bisa tidak mendapat apa-apa. Baiklah. Mari mencari titik lainnya!

Pantai Hamadi
Pengejaran senja dilakukan di Pantai Hamadi. Kali ini, Ibu Tiur dan Ibu Evi juga ikutan piknik. Tambah ramai. Energi pun kembali terisi. Sembari menunggu senja muncul, kami makan bakso dan saling bercerita. Dari urusan cinta sampai negara. Cielah. Tak lupa juga foto-foto.

Kami berada di pantai ini cukup lama. Benar-benar mengistirahatkan tubuh, mengembalikan energi. Tidak lagi maraton. Lalu, saya membayangkan betapa bahagianya bisa tinggal di sebuah kota yang dikelilingi banyak pantai dibandingkan banyak kafe. Pantai jadi tempat nongkrong, ngobrol ngalor-ngidul beratapkan langit sambil diiringi suara ombak. Tak merasa risih jika angin membuat rambut berantakan. Sapaan alam bawa ketenangan. Jauh dari suara klakson dan serangan polutan.

IMG_0311-17

“Wah, ini karena langitnya yang agak mendung atau senjanya sembunyi di balik batu itu?” kata Ibu Tiur. Tak ada senja yang saya tangkap sore ini, tapi tetap ada yang istimewa.

“Lihat itu! Pelangi! Kalau kamu ke timur Indonesia, pasti menemukan hal-hal yang ajaib…” Meski tidak hujan, bias cahaya warnai-warni tetap bisa terlihat. Ah, senangnya…

IMG_0317-2

Rindumu terbuat dari apa? Sesendok desiran angin dan semangkuk ombak yang menderu-deru di lautan. Sedikit menenangkan, lebih banyak mencemaskan. []

Setelah menghabiskan sore di Pantai Hamadi, kami menuju kawasan Danau Sentani untuk makan malam. Seru sekali melihat kerlip lampu kota dan Tugu Salib! Ya, Tugu Salib yang kami kunjungi kemarin bisa terlihat karena memancarkan sinar. Sayangnya, tulisan “Jayapura City” masih belum menyala.

IMG_0370-26

Sambil menunggu makanan dihidangkan, mulai membayangkan ada program wisata malam di Danau Sentani. Misalnya, ada kapal-kapal kecil yang memuat wisatawan menikmati city light sembari mengelilingi Danau Sentani. Aktivitas ini bisa dilakukan sembari pengunjung menunggu makan malam. Bisa juga dibuat beberapa dermaga atau tempat perhentian kapal, disesuaikan dengan lokasi pusat wisata. Jadi, wisata bahari ini dapat diakses dari beberapa titik. Kecantikan Sentani benar-benar bisa dinikmati sepanjang hari.

Hari #4
Tidak terasa, memasuki hari terakhir di Jayapura. Selagi masih ada waktu sebelum jadwal flight ke Timika, kami membeli oleh-oleh donat lebih dulu. Ajaibnya, jauh-jauh sampai Papua, masih saja saya bertemu teman Jogja yang bekerja di Jakarta dan sedang bertugas di Jayapura. Ealah, dab. Setelah sempat kebablasan mencari tempat penginapan, akhirnya sempat bertemu bung jurnalis andal, Giras. Awkward.

Sebenarnya, saya merasa masih membutuhkan satu hari lagi untuk menyapa pantai-pantai lainnya, termasuk pantai-pantai yang berada di dekat pusat kota. Masih ada Pantai DOK VIII, Pantai Pasir Enam, atau Pantai Base G. Tapi, apa daya. Waktu belum mengizinkan. Barangkali, memang tak boleh langsung tuntas agar ada keinginan untuk kembali. Semoga masih diizinkan untuk menyapa kebaikan Jayapura lagi. Amin.

Terima kasih, Jayapura! Terima kasih semesta!🙂

*) Check out my story on Steller. WordPress won’t let me embed it. If you want to read, just click here. I also saved this journey with special hastag #bertemuLDF. Thank you.

 

Screen Shot 2016-07-07 at 9.53.44 PM 

Catatan, jika kamu ingin tahu:

  • Tiket pesawat (Garuda) Timika–Jayapura: Rp 893.000
  • Sewa mobil per hari: 500.000
  • Karena lokasi antara pantai yang satu dengan pantai lainnya relatif jauh, jangan lupa bawa bekal makanan/camilan. Apalagi, banyak obyek wisata yang belum dilengkapi kantin/restoran. Tapi, ingat. Sampah makanan jangan dibuang sembarangan. Bawa bekal uang yang cukup karena pusat ATM ada di sekitar kota.
  • Bukit MacArthur
    Retribusi di museum: sukarela
    Akses:
    Tugu MacArthur berada di dalam lingkungan Resimen Induk Kodam (Rindam) XVII/Cenderawasih Sentani. Meski rute terus menanjak, pengunjung tak perlu khawatir karena jalan telah diaspal sehingga mobil dapat melintas dengan mulus.
    Hingga akhirnya, Pos Proovost Rindam XVII/Cenderawasih terlihat. Mobil pun berhenti sejenak. Pengunjung wajib melapor kepada petugas pos penjagaan dan meninggalkan KTP. Dengan ramah, petugas menyarankan agar kaca mobil dibiarkan terbuka selama berada di kawasan militer ini. Mengikuti arahan dari papan petunjuk, pengunjung dapat terus menuju ketinggian 325 meter di atas permukaan laut, titik lokasi Tugu MacArthur. Jika sudah melihat Tugu MacArthur, itu tandanya kita sudah sampai.
  • Pantai Harlem
    Sewa boat: Rp 400.000-450.000 (biasanya, boat akan menjemput sekitar 2 jam. Namun, kami rikues khusus agar ditunggu saja karena tidak akan berlama-lama)
    Sewa pondok: Rp 150.000
    Kamar ganti: Rp 200.000
    Toilet: Rp 5.000
    Snorkeling: Rp 50.000
    Bisa bawa tenda sendiri kalau ingin menginap
  • Pantai Amai
    Biaya parkir: Rp 25.000
  • Pantai Hamadi
    Biaya masuk: Rp 20.000
    Sewa pondok: Rp 150.000
    Parkir: Rp 50.000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s