Surat Kepada Kaki Kiri

Kepada Kaki Kiri…
Kau pasti masih ingat.

9 September kemarin. Tepat satu tahun aku menaruh perhatian kepadamu. Masih ingat pertanyaan-pertanyaan yang kita dengar ketika kamu mulai aku (paksa) ajak berjalan. Tiga hari setelah kejadian.

“Eh, Gandes gimana ceritanya? Elu tuh kenapa sih? Habis lari-lari? Olahraga apa sampai bisa begitu?”
“Kenapa kakinya, Mba? Gara-gara main futsal?
“Gandes kenapa? Karena pakai high heels ya?
“Pasti jalan sambil main hape ya?”

Kau pasti senyam-senyum sedikit tertawa saat mendengar pertanyaan itu. Kau tahu betul. Mana mungkin aku rajin olahraga. Lari mengejar bus kota itu sudah pasti. Main futsal pun sudah lama vakum. Apalagi, pakai high heels.

Membayangkan senyummu lebih lebar saat aku berusaha menjelaskan kronologisnya kepada mereka. Tidak sedang lari-lari, apalagi pakai hak tinggi. Ya, (hanya) karena berjalan kaki. Tidak memegang ponsel. Melewati gang, menuruni undakan. Tidak hati-hati. Ah, kau pasti masih ingat, kan Kaki Kiri?

img_1172

9 September 2015
Akhirnya, pukul 6 pagi. Dua jam sebelumnya aku sudah tiba di SDN Pancoran 08 Pagi. Persiapan Kelas Inspirasi Jakarta. Beberapa teman relawan mulai berdatangan. Aku pun berjalan menuju sekolah. Menyusuri sebuah gang. Ini memang bukan rute yang dilalui seperti saat survei sebelumnya.

Aku sadar ada undakan, tapi benar-benar enggak ngeh seberapa tinggi undakan itu. Ketika melangkah turun, kau sepertinya belum siap. Salah duga. Klek! Engkel menyentuh tanah yang berbatu. Benjol sebesar cimol pun muncul seketika.

Langkah sudah mulai tertatih, tapi aku coba berjalan. Maaf. Aku lupa menanyakan kondisimu, wahai Kaki Kiri. Aku hanya membasahimu dengan bekal air minum mineral yang kubawa. Tapi, itu tak mampu menahan nyeri. Benjolan di tubuhmu semakin membesar. Lalu, merata. Tubuhmu membengkak dari pergelangan hingga telapak.

Beberapa teman menyarankan agar aku tidak masuk kelas karena kaki semakin membesar. Tapi, aku tidak mau. Tujuan ke sekolah ini ya untuk bertemu dengan adik-adik. Aku hanya berbisik kepadamu. Merayumu. Bertahanlah…

Kepada Kaki Kiri…
Maafkan aku.

Melangkah di tanah lapang saja terasa begitu nyeri bagimu. Ditambah lagi, SDN Pancoran 08 Pagi memiliki dua bangunan sekolah yang terpisah. Bangunan pertama berada difungsikan untuk kelas 1-3. Bangunan kedua difungsikan untuk kelas 4-6. Jalanan menuju bangunan kedua cukup banyak batu kerikil. Meski ada sepatu yang melindungi, rasanya seperti sedang ditusuk jarum. Kerikil-kerikil itu menusuk ragamu. Kalau kau bisa bicara, pasti sudah menjerit kencang ya?

Semakin siang, semakin pincang. Memasuki kelas satu per satu, menyeretmu. Maafkan aku, Kaki Kiri.

“Ibu, kakinya kenapa?”
“Ibu jatuh?”

Uh. Ibu guru yang satu ini lemah, Nak. Maaf, ya harus bertemu dengan kalian dengan kondisi seperti ini. Aku seharusnya mengajak Kaki Kiri menghampiri meja anak-anak satu per satu, tapi apa daya. Titik berdiri hanya ada satu. Di depan kelas, dengan kaki kanan yang lebih banyak menopang.

Sempat degdegan juga ketika teman relawan pengajar menceritakan kondisi kelas 4. Takut kalau tidak bisa mengontrol kelas. Beruntung, tidak ada “kehebohan” saat aku masuk kelas. Mungkin, mereka menjadi iba karena melihatmu, Kaki Kiri. Kelas aman terkendali sampai jam mengajar selesai. Bahkan, beberapa dari mereka ikut membawakan tote bag setelah sesi acara penutupan di lapangan. Sedang mengumpulkan tenaga untuk kembali ke kelas, eh anak-anak menghampiri saya dan membawakan tote bag. “Ibu, ini tasnya masih di kelas…” Terima kasih banyak, ya Nak… kalian baik hati sekali.

Kepada Kaki Kiri…
Terima kasih.

Berkatmu, aku mengenal orang-orang baik di dunia ini. Ada Bang Andi, pengemudi ojek yang mengantarkan ke sekolah. Jemput subuh-subuh di perempatan Pancoran. Ketika tahu aku keseleo dengan kaki bengkak, malah menawarkan diri untuk mengantarkan sampai rumah. Sayangnya, aku enggak kuat harus menahanmu selama perjalanan. Kalau menyentuh pijakan motor, tubuhmu akan kesakitan. Akhirnya, Bang Andi membantu memberhentikan taksi di daerah Slipi, membukakan pintu. “Enggak perlu saya gendong, kan Mba?” tanya Bang Andi saat aku kebingungan bagaimana harus turun dari motor. Kaku rasanya.

Berkatmu, aku mengenal sopir-sopir taksi ajaib. Mau tak mau selama dua minggu pascakeseleo, aku mengajakmu naik taksi, pulang-pergi. Sungguh dermawan, kata Mama. Karena kau dibalut dengan decker dan masih terlihat pincang, sopir taksi yang mangkal di Kebon Jeruk sudah pasti bertanya “Kenapa?”. Ada yang melanjutkan percakapan dengan merekomendasikan tukang urut asal Banten, cerita tentang pengalaman patah tulang, atau ngece.

“Memangnya enggak ada yang jemput, Mba?”
“Enggak ada. Biasanya ya naik bus dan angkot.”
“Kasihan ya…”
“….” Huft banget.

Berkatmu, pengemudi Gojek yang ajaib pun aku temui. Tapi, memang enggak se-ajaib pengemudi taksi, sih. Kamu pasti senang, deh kalau bertemu pengemudi Gojek yang melihatmu lebih dulu pada saat: sebelum berangkat, nyelip di antara kendaraan lain, dan sebelum turun dari motor. Memastikan bahwa dirimu tidak tersenggol oleh apapun.

Berkatmu, aku bisa mempercayai hadirnya sebuah harapan dalam kondisi yang mustahil, yaitu di dalam bus kota. Setelah berbulan-bulan vakum naik bus kota, akhirnya aku kembali mengajakmu. Kali ini, kita mulai dari Kebon Jeruk dulu. Belum dari Slipi bawah, seperti biasa.

“Ayo naik, Neng! Islamic!”
“Enggak jadi, deh, Bang. Enggak ada tempat duduk. Kaki saya lagi sakit.” Lemah sekali ya. Tapi, ini jujur. Memang tidak kuat kalau harus berdiri selama 1-1,5 jam. Aku pun mengajakmu menuruni tangga bus pelan-pelan.
“Mbak duduk sini aja.” Tiba-tiba ada laki-laki yang memanggil sebelum kita benar-benar keluar dari bus. Dia memberikan tempat duduk. Ya ampun. Bagian ini bikin terharu. Masih ada harapan di antara muatan ego di bus kota.

Kau pasti ingat.
Sebelumnya, kita juga mencoba naik bus kota dari Kebon Jeruk. Kebagian berdiri. Karena ingin segera lekas sampai rumah, mau tak mau tetap naik bus itu. Alhasil, Kaki Kanan harus bekerja keras menopangmu. Sesekali aku mengangkat tubuhmu agar tidak terlalu lama menapak. Ah, decker di tubuhmu ternyata tidak cukup menyita rasa iba penumpang lain. Rasanya ingin sekali dikasihani. Tapi, ya su dah lah. Mungkin, ini karma buruk karena tanpa sadar pernah membiarkan ibu hamil atau penumpang lansia berdiri di bus kota. Hanya bisa berbisik kepadamu, bertahanlah…


Kepada Kaki Kiri,
kau menyadarkanku.

Tak boleh menyepelekan keseleo. Tubuhmu pernah menjelma seperti lobak putih. Mata kaki entah di mana. Tiga hari pertama setelah kejadian, baru bisa berjalan ke kamar mandi dan dapur. Tongkat milik Bapak dan decker jadi andalan. Minyak gandapura, arak China, minyak tawon, Voltaren, dan Thrombophob jadi olesan favorit. Lepas decker, harus kembali latihan menapak dan berjalan yang tepat. Pakai sepatu harus menunggu lima bulan. Batal menonton Papermoon Puppet #SAIDJA dan Efek Rumah Kaca karena kaki baru selesai dipijat pada siang hari. Duduk bersila, berlari, dan melompat tidak lagi terasa mudah. Jangan menggampangkan segala sesuatu.

img_2624
Kau menyadarkanku.
Mama tetaplah yang terbaik. When it’s so hard to walk, there’s a person who will run faster than you, MOM. Semestinya, aku menuntun Mama saat kondangan karena harus menaiki tangga pelaminan. Eh, malah Mama yang menuntunku. Mama yang menyiapkan segala perlengkapan pada satu tempat karena aku tak bisa menghampirinya selama sakit. Membelikan racikan ini-itu, mengoleskannya ke tubuhmu tiap pagi dan malam.

img_1329

Kalium Diklofenak, asupan wajib bagi tulang. Plus, makan 2 telur rebus dalam sehari.

fullsizerender

Baper adalah melihat orang (atau bahkan anak kecil) berjalan dengan cepat, berlari, dan loncat-loncat. Pemandangan nyaris tiap pagi sembari menunggu jadwal fisioterapi.

Kau menyadarkanku.
Ini memang drama, tapi bukan derita selamanya. Setiap kali mendadak sedih karena menahan nyeri, ada momen yang menamparku. Melihat seorang perempuan berjalan dengan tongkat di tangan kiri. Ia memakai kemeja dan celana panjang. Sepertinya, pekerja kantoran. Saat nekat pergi ke Jogja, ada laki-laki muda berjalan dengan tongkat di kedua tangan. Menyeberang bersama keluarganya. Makan di tempat yang sama denganku. Belum lagi bayangan-bayangan orang yang memiliki keterbatasan tetapi semangatnya tak terbatas. Malahan, tetap bisa berkarya. Ya. Apa yang telah diberikan oleh-Nya sudah selayaknya terus dijaga.

Kepada Kaki Kiri,
kamu enggak kapok kan?

“Daftar Kelas Inspirasi Yogyakarta, Ndes?”
“Daftar, dong!”
“Emangnya kaki udah sembuh?”
“Belum! Hahaha…”

Februari 2016. Ikut Kelas Inspirasi Yogyakarta. Momen pertama kali (akhirnya) bisa pakai sepatu. Lanjut lagi, Kelas Inspirasi Klaten pada bulan yang sama. Kesempatan menonton acara musik tetap diambil meski harus berdiri.

 

img-20160207-wa0025

Yuk, sambil lompat! Enggak bisaa… [Kelas Inspirasi Yogyakarta]

img-20160223-wa0019

Bagian tengah tidak ikut lompat? Ya, itu SAYA! Hahaha… [Kelas Inspirasi Klaten]

 

screen-shot-2016-09-11-at-10-59-29-pm

Hasil piknik #selamakeseleo

Kepada Kaki Kiri,
teruslah menemani.

Bulan lalu, ada kemajuan terbaru. Kau bisa kuajak berjalan-jalan di Gunung Hawu, memakai snorkeling fin (butuh pelan-pelan banget), memanjat batu-batu tajam di gua, dan trekking 4 jam di Taman Nasional Gunung Leuser. Satu lagi. Kecepatan berlari mengejar bus kota mulai ada peningkatan. Aih. Aktivitas yang biasa jadi terkesan luar biasa berkatmu, Kaki Kiri. Hahaha…

 


Masih terus memperhatikanmu sampai detik ini. Kau ajarkan agar aku tak lekas jemawa.
Kepada Kaki Kiri,
bertahanlah…

Selain hati, dengarkanlah kaki ketika ingin pergi. Tetap berhati-hati.

2 thoughts on “Surat Kepada Kaki Kiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s