7 Hal yang Saya Pelajari dari Banda Neira

“Apaaaa sih?” Komentar saya saat pertama kali melihat Banda Neira manggung. Saya mengernyitkan kening. Ingin tertawa pun nanggungRara Sekar dan Ananda Badudu terlihat gugup. Kikuk. Makin menjadi “krik-krik” saat mereka harus terpaksa berbasa-basi sembari mengatur nada gitar. Sesekali pula terdengar nada-nada yang tidak begitu mulus. Lebih asyik dengar di album. Namun, kekuatan lirik mereka tetap mampu menghipnotis saya yang malam itu berada di Joyland Festival, 7 Desember 2013.

Ternyata, komentar “Apaaa, sih?” pada perjumpaan pertama berujung pada komentar “apa-apaan sih?!” ketika membaca kabar luka dari dunia maya pada 23 Desember 2016. Banda Neira bubar. Berhenti di tahun keempat.

Ya, apa-apaan, sih mereka ini?! Berniat untuk setia menunggu Rara Sekar pulang menyelesaikan studi di luar negeri usai pesta rilis album kedua (yang ternyata jadi konser terakhir) dan siap kembali bernelangsa riang, eh mereka justru bubar jalan. Banyak yang berkomentar, “Lagi sayang-sayangnya, eh malah ditinggal pergi.” Ada juga yang berkomentar bahwa bubarnya grup musik di bawah lima tahun adalah hal biasa. Tak perlu berlebihan. Bagi saya, Banda Neira telah membuat saya banyak belajar meski dimulai dari perkenalan yang terlambat.

Inilah 7 hal yang saya pelajari dari Banda Neira.

1. Jangan banyak mengeluh
Sebenarnya, tak ada lagu yang paling difavoritkan di Album Berjalan Lebih Jauh. Hampir semuanya memiliki frekuensi yang sama untuk diputar. Semuanya jadi favorit. Tapi, ada lagu yang membuat saya seperti agen MLM ke teman lain. Judulnya, “Kau Keluhkan (Esok Pasti Jumpa)”. Lagu ini menyadarkan bahwa tak perlu lagi larut dalam keluhan, sudah saatnya segera pergi dan kembali bermimpi.

Kau keluhkan awan hitam yang menggulung tiada surutnya
Kau keluhkan dingin malam yang menusuk hingga ke tulang
Hawa ini kau benci
Dan kau inginkan tuk segera pergi
Berdiri angkat kaki
Tiada raut riangmu di muka, pergi segera

Setelah mendengarkan beberapa kali, saya berpikir bahwa lagu ini sepatutnya didengarkan juga oleh orang lain. Lagu satu album pun saya kenalkan, “Kamu harus dengarkan ini!” Semoga lagu-lagu Banda Neira masih menjadi penyemangat baginya hingga kini.

#TerimaKasihBandaNeira yang sudah menjadi pengingat…

img_0256-1

Sewaktu menonton pesta rilis ini, sekelebat saya mereka-reka apa yang ada di dalam pikiran mereka berdua. Apakah skenario nelangsa riang memang sedang berusaha dilakoni?

img_0267-3

Ini konser yang terakhir (setidaknya dalam waktu dua tahun ke depan) atau tentang yang akan benar-benar berakhir?

2. Berjalan lebih jauh (ke Indawa)
Lagi-lagi terinspirasi dari salah satu lagu dari Banda Neira. Kali ini, giliran “Berjalan Lebih Jauh”. Kala itu, saya dan beberapa teman sedang ada kegiatan penggalangan donasi buku dengan tujuan Indawa, Lanny Jaya, Papua. Kami menamakan inisiatif tersebut dengan #ceritauntukIndawa. Kisah awal mula dapat dilihat di sini.

Tantangan yang kami hadapai di tengah penggalangan donasi buku adalah menghitung-hitung biaya kirim buku. Jumlah buku begitu banyak. Sementara itu, donasi dana masih belum mencukupi biaya kirim. Doa kami, semoga buku-buku yang telah dikumpulkan bisa tiba di Indawa. Berjalan lebih jauh hingga tiba di tujuan.

Ya, berjalan lebih jauh. Persis dengan lagu Banda Neira. Makanya, “Berjalan Lebih Jauh” menjadi latar lagu dari video Instagram yang saya buat. Ditambah lagi, bagian lirik “jelajah semua warna” sejalan dengan mimpi kami, membuat SD Inpres Indawa-Makki lebih berwarna dengan buku-buku kiriman para perpanjangan tangan.

#ceritauntukIndawa butuh berjalan lebih jauh hingga tiba di tujuan. Mari bantu kami untuk meneruskan perjalanan 🙂

A post shared by Cecilia Gandes (@ceciliagandes) on

Sekarang tiap kali mendengar lagu ini tak hanya teringat Banda Neira, tetapi juga tentang #ceritauntukIndawa. Teringat pula tentang momen-momen yang bikin kami merinding: kehadiran para perpanjangan tangan yang ikut membantu dalam bentuk apapun.

Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama…

#TerimaKasihBandaNeira yang ikut mengantar #ceritauntukIndawa…

3. Ayo, ke Banda Neira!
Gara-gara Banda Neira, saya jadi penasaran dengan Pulau Banda Neira. Awalnya, saya tidak berpikir bahwa pulau yang menyimpan banyak cerita sejarah itu bisa disinggahi. Hanya tinggal dalam buku-buku pelajaran atau biografi saja. Eh, ternyata bisa menjadi tujuan pelesir to

Nah, saya dan Mba Adith berkesempatan liputan di Maluku pada 2014. Ini adalah kesempatan untuk memasukkan jalur Banda Neira dalam daftar tujuan. Pulau itu memang sudah jadi incaran Mba Adith sejak lama, sedangkan saya mengincarnya berkat Rara Sekar dan Ananda Badudu. Sayangnya, kami berdua belum berjodoh dengan jadwal kapal. Kalaupun nekat menyeberang dari Ambon dengan perahu sewaan, itu terlalu berisiko karena angin laut sedang tidak bersahabat.

Mungkin, ini pertanda untuk kembali datang ke Maluku dengan menyesuaikan kapal yang menyeberang ke Banda Neira. Amin.

#TerimaKasihBandaNeira, saya jadi ingin pergi ke Banda Neira…

4. Keisengan pun mengenal proses
Penampilan Banda Neira di Joyland Festival 2013 memang berbeda dengan keasyikan nada-nada yang terekam di dalam debut album mereka. Namun, bukankah memang selalu ada proses? Toh, perjumpaan-perjumpaan berikutnya mulai membawa keasyikan.

Saya sendiri mengaku bukan seorang ahli di skena musik Tanah Air. Tapi, ini jujur. Semakin memasuki tahun-tahun berikutnya, penampilan mereka di panggung jauh lebih apik. Bagian segmen basa-basi pun tak banyak menimbulkan momen “krik-krik” dibandingkan sebelumnya. Hehehe…

Bersembunyi ia di dalam Mengintai ruang Gadis kecil merangkai kapal Melipat jarak… -Banda Neira #ibadahindie

A post shared by Cecilia Gandes (@ceciliagandes) on

Nah, terasa makin asyik saat mereka berkolaborasi dengan musisi lainnya secara live. Oh tentu saja, lirik-lirik pun semakin ajaib. Itu bisa dirasakan di album terakhir, Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti (2016).

Hikmahnya, proyek yang mereka akui berawal dari keisengan pada akhirnya juga mengenal proses. Se-iseng-iseng-nya membuat Banda Neira, mereka malah mengajak musisi lain berkolaborasi. Bahkan, membuat konser beberapa kali. Keisengan yang justru menghadirkan banyak pengalaman berkesan, setidaknya bagi saya sendiri.

#TerimaKasihBandaNeira yang telah mengenalkan proses…

5. Tetaplah menggambar meski tak bisa menggambar
Kalau memosisikan diri sebagai orang bijak, pasti akan muncul kalimat “semua orang sebenarnya bisa menggambar”. Oke, semua orang bisa menggambar. Mungkin, kadar estetikanya yang berbeda-beda. Hehehe…

Nah, kalau gambar buatan saya, cukup di-O-in aja. Tapi, berkat Banda Neira, saya malah nekat menggambar dan menyimpannya di media sosial. Enggak malu ya? Hahaha… Ya, ini gara-gara lirik ajaib milik Banda Neira. Maafkan kalau saya jadinya malah menyebarkan gambar yang tak ajib.

Rindu ~@dibandaneira (musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo)

A post shared by Cecilia Gandes (@ceciliagandes) on

#TerimaKasihBandaNeira yang telah membuat saya nekat menggambar…

6. Ada yang namanya Sekolah Rumpin
Mengenal Banda Neira membuat saya tergoda mengobservasi (baca: stalking) kehidupan Ananda Badudu dan Rara Sekar. Dalam pencarian (yang tak terlalu ditekuni), ada dua hal yang diingat. Pertama, Ananda Badudu adalah “milik” perusahaan media sebelah (yang pada akhirnya ia memilih resign. Tak jadi iri berkepanjangan). Kedua, Rara Sekar adalah perempuan yang aktif dalam kegiatan sosial. Panutan-able. Membaca tulisannya di Tumblr membuat saya meloncat ke laman-laman lainnya, termasuk saat mencari tahu tentang Sekolah Kita Rumpin (SKR). Ya, terkadang yang bisa memberikan pembelajaran tak hanya lirik atau lagu yang didengar, tetapi juga perjalanan hidup dari musisinya.

Lebih menyenangkan, ternyata Rabbit Hole punya agenda bersama SKR di Perpustakaan Rabbit Hole. Oke, niatkan hati untuk datang! Di sana, saya pun berkesempatan mengobrol dengan salah satu inisiatornya. Beruntung, mereka punya waktu lama di Perpustakaan Rabbit Hole.

“Dari mana kenal Sekolah Kita Rumpin?” tanya salah satu pengurus SKR.
“Dari Rara Sekar… Saya senang dengerin Banda Neira. Nah, salah satu personelnya pernah menulis tentang Sekolah Kita Rumpin. Hehehe…” Berasa akrab dengan Mba Rara saja.

Tapi, hingga kini saya masih ada utang janji. Ingin datang ke sana meski masih banyak pertimbangan untuk menjadi relawan. Semoga bisa kesampaian.

#TerimaKasihBandaNeira, doakan semoga saya bisa mengunjungi Sekolah Kita Rumpin…

7. Kembali pada ikhlas
Ya, pada akhirnya perpisahan mengajarkan keikhlasan. Toh, yang disenangi adalah karya mereka. Jadi, masih ada banyak cara untuk bisa menikmati Rara Sekar dan Ananda Badudu dalam bentuk apapun. Konser berkonsep reunian juga bukan hal yang mustahil to? Meski entah kapan. Biarlah yang patah akan tumbuh, yang hilang akan berganti…

 

#TerimaKasihBandaNeira
Selamat Berjalan Lebih Jauh
Karya kalian tetap tinggal Sebagai Kawan, terus melekat Sampai Jadi Debu.

Tertanda,
dari salah satu di antara kerumunan penikmat


Ps1:
Maaf. Tulisan ini memang begitu personal. Pun terlambat ditulis. Namun, ada hikmahnya juga baru menulis saat ini. Ada perasaan lebih lega(wa) setelah ada jeda, seusai euforia kekecewaan dan ke-nyesek-an atas bubarnya Banda Neira.

Ps2:
Foto-foto yang diunggah adalah sebagian kecil rekaman saat pesta rilis kecil-kecilan #yangpatahtumbuhyanghilangberganti pada 30 Januari 2016 di Kedai PGP Café, Rempoa, Tangerang Selatan. Saat itu, saya menonton bersama Mba Tita, Any, dan Kak Angel (dengan proses pemesanan tiket yang gercep agar tak kehabisan). Lucunya, itu adalah kali kedua kami menonton Banda Neira berempat. Sebelumnya, kami menonton saat konser Kita Sama-Sama Suka Hujan (KSSSH) di Rossi Musik, Jakarta. Lucunya, usai konser kami berguyon “Sampai jumpa 2 tahun lagi, gaes. Nonton Banda Neira lagi setelah Mba Rara selesai studinya. Eh, atau kita nonton di New Zealand?” Lucunya lagi, tak lama kemudian kami mengetahui bahwa itu benar-benar jadi konser terakhir karena Banda Neira udahan. Lucu, memang…

Ps3:
Curhatan tentang KSSSH ada di sini.

Ps4:
Curhatan Banda Neira pasca 23 Desember 2016 ada di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s