PHONE

Aku tergeletak. Hampir sekarat. Entahlah, ragaku mungkin sudah mulai menua.
Sejak ‘hari itu’, aku lebih bisa mengontrol diri.
Aku tidak terlalu disibukkan dengan suara dan pesan yang melintasi tubuhku.
Suara yang sama. Pesan yang berulang. Dan selalu ada cerita yang tak terlupakan.

Di malam hari pun, aku kembali bisa berisitirahat dengan tenang. Tak ada lagi dia bercerita dengan dia yang lain. Tak perlu lagi tubuhku dialiri listrik sepanjang malam hingga menunggu dia membuka mata dan mencabutinya dari tubuhku.

Sejak hari itu, semua (tampak) kembali tenang.
Tenang di masa tuaku.
Tapi mungkin, tidak seperti yang dia rasakan.
Masih ada dua folder di dalam memoriku. Bahkan, di dalam memorinya pun masih tersimpan berjuta-juta karakter yang nantinya membentuk sebuah cerita: LAMPAU.
Entahlah, mengapa folder itu masih tersimpan padahal ‘hari itu’ pun telah terjadi di beberapa waktu yang lalu. Lebih dari seratus pesan dan lebih dari seratus karakter tersimpan dalam memoriku. Tak dapat kubayangkan jika folder itu hilang sebelum dia menyalinnya di tempat yang lain. Dia pasti semakin tak tenang.

Malam ini: Aku tergeletak. Hampir sekarat. Entahlah, ragaku mungkin sudah mulai menua.

Dia mulai menggenggam tanganku. Perhatiannya tak penuh pada diriku. Dia juga menonton televisi. Semua persis seperti malam-malam sebelumnya. Tapi, bukan seperti malam-malam sebelum ‘hari itu’.

Jarinya mulai menari di atas tubuhku yang sudah seperti barang rongsokkan ini. Bukan; dia bukan ingin membalas pesan yang terakhir masuk. Dia cuman ingin memasukki dunia maya sejenak. Mungkin, karena ia sudah bosan dengan dunia nyata-nya. Atau, mungkin hanya di dalam dunia maya sajalah dia dapat merasakan hidup. Sekedar mengetik beberapa karakter untuk status barunya di jejaring sosial. Rangkaian karakter yang sebenarnya untuk memotivasi dirinya juga. Memaksakkan diriku yang sudah menua ini mengikuti dinamika ke-online-an internet dan memaksakkan dirinya sendiri untuk tetap berusaha termotivasi atas kata-katanya sendiri.

Malam ini: Malam kesekian di mana dia tak bernafsu membalas setiap pesan yang masuk.

Malam ini: Malam kesekian di mana dia pun tak bernafsu untuk mengetik dan berkirim pesan kepada dia yang lain terlebih dahulu. Dia lebih senang menunggu dikirimi pesan. Dia lebih senang menunggu waktu yang tepat untuk membalas kembali. Mungkin, setelah ada dua pesan yang menumpuk. Atau, mungkin menunggu lebih banyak lagi…

Malam ini: Malam kesekian di mana aku akan bertambah sekarat setiap setelah dia memuaskan dirinya untuk berkeliaran di dalam dunia maya-nya. Aku semakin melemah dan kembali pula tubuhku dialiri listrik berjam-jam. Panas.

Malam ini: Malam kesekian di mana dia hanya berkirim pesan kepada masa lalunya lewat doa. Bukan lagi lewat sistem dalam tubuhku. Aku mendengarnya jelas walaupun tak ada sejumlah karakter yang terlintas dalam pandanganku malam ini. Aku mendengar jelas, walau aku sedang sekarat. Sejak ‘hari itu’, sudah terhitung, dia telah mengirimkan berjuta karakter dalam doanya: “Tuhan, semoga dia bahagia besamanya selamanya…”

Malam ini: Malam kesekian di mana aku akan bertambah sekarat. Aku semakin melemah dan kembali pula tubuhku dialiri listrik berjam-jam. Panas. Tergeletak di sampingnya. Masih mendengarkannya berkirim pesan kepada yang lebih Empunya Segalanya. Berkirim pesan tanpa harus melewati diriku. Malam ini, malam kesekian di mana aku merasakan tetesan air matanya…

Comments (2)

.perempuan naif dan munafik menangis kepada dunia dan berteriak kepada laki-laki.

Leave a Comment

Valentine’s day: love everyone. Everday!

“Huraaiii, v-day taun ini tepat sekali jatuh pada hari Sabtu. Malam mingguan sekalian, donk…”

Ya, mungkin V-day tahun ini sangat berpihak pada mereka-mereka yang senang sekali ber-malam mingguan. V-day yang punya persepsi: “acara-nya orang yang punya pacar” akan semakin bermakna buat mereka-mereka. Eits, tapi jangan terlena dengan persepsi kaum mayoritas itu… V-day milik siapa aja, kok!

Sejak gue masih SMP, gue malah merasakan bahwa V-day gak jauh-jauh dengan Friendship’s Day… (emang kapan diperingatinnya? ^^!). Gue dan temen-temen sekelas malah tuker-tuker coklat. Mungkin, malah kayak acara tuker kado pas Natalan atau Paskah-an. Hehehe… But, it was still fun! Mereka-mereka yang diberi talenta untuk meramu adonan coklat, berinovasi dengan kreasinya sendiri. Sedangkan gue?? Tentu saja mempergunakan talenta gue juga: menghabiskan coklat pemberian. Hehhee.. Lumayan, lah waktu SMP. Bener-bener kenyang coklat. Bahkan, ampe H+7 pun masih ada temen yang ngaish coklat… Hehehee… Alhasil, gue juga “kenyang” buat beli coklat sebagai balasannya… ^^!

Beranjak SMA, gue masih merasakan bagaimana V-day adalah milik semua orang. Teme-temen gue pun masih melakukan “tradisi” waktu SMP. Padahal, temen-temen SMA gue gak semuanya temen SMP gue juga. Jadi, seolah-olah… tradisi “tukeran coklat” itu pun menjadi tradisi yang universal.

Oia, ada satu kreasi temen gue yang gue kangenin. Punya-nya si Novi “muggle” serabi. Waktu itu gue demen banget sama coklat buatannya yang ada rasa mint plus rasa bubble gum. Rasanya pengen lagi pengen lagi lagi lagi dan lagi… Ngalahin MOMOGI, lah! hehehe… [nop! Kirim, dong coklatnya ke jogja… ^^]

Hummm…

Ini tahun kedua gue nulis tentang V-day. Yang pertama, waktu gue berada di kost yang pertama. Bisa dilihat gimana beraneka ragamnya orang-orang sekitar gue dalam menanggapi “terpaan” v-day. Hehehe… dari yang sedih karna pas V-day lg ngejomblo ampe yang bersemangadh 45 untuk menyiapkan “ritual kasih sayang” itu.

Dan untuk sekarang, tentu saja bakal ada cerita baru tentang v-day kali ini.

Cerita #1

Sebuah percakapan di sela-sela dosen sedang menjelaskan materi.

Niko ‘sombret’: “ndes, aku sebenarnya mau beliin coklat buat pacarku…” katanya dengan tampang amat sangat serius dan memprihatinkan.

Gue: “lho? Ya, dibeliin, lah…” berharap itu adalah saran yang terbaik buat dia.

Niko: “ya, sayangnya aku gak punya…”

Gue: “maksudnya? Gak punya duid??” ke-dodol-an gue mulai kumat.

Niko: “bukan… maksudku… sayangnya aku gak punya pacar…!!”

Gue: “oalah… gitu aja, kok repot…” hehehee…

Niko: “kamu, tuh ya! Gitu aja gak ngerti…”

Hahaha… Maklum, saya kan masih kecil. Jadi, gak ngerti yang namanya pacar-pacaran.. Hwuahaha…

Cerita #2

Sebuah dialog antara dosen dan muridnya.

Pak Gogor: “kalian bisa membuat makalah tentang tanda yang akan muncul di hari sabtu nanti. Hayoo.. apa aja tanda yang akan muncul??”

Mahasiswa(M)1: “coklat!!”

M2: “bungaaaaa…!!”

M3: “boneka….!!”

M4: “bantalll….!!” (maksudnya, bantal hati)

M5: “Bantal?? Guling sekaliannn…” (maksudnya, gak jelas)

M6: “warna pink, pak!!”

Pak Gogor: “Ya. Selain pink, biasanya warna pasangannya apa?”

M5: “ijoooo…”

GUBRAGGGG!!!

Pak Gogor: “Yaa.. banyak kan tanda atau symbol-simbol Valentine… Kalian bisa cari tau. Kenapa harus coklat? kenapa harus pink? Kenapa harus tgl 14 Februari…”

M6: “yooo… dilihat primbon-nya dong, kalo gitu… Ketik REG spasi PRIMBON…”

Hmmm, sebenarnya… gue kayaknya pernah tau tentang sejarah V-Day dari majalah edisi taun jabot, deh! Pernah diulas secara singkat. Tapi, beberapa hari sebelum gue menghadapi pertanyaan Pak Gogor… gue mendapat message di YM dari temen gue, Ariez, tentang sejarah V-day. Tapi, versi plesetan, gitu… hehehe…

Well, let’s find the mythos…

Cerita #3

Gue punya temen kost lama. Beberapa bulan yang lalu, dia putus dengan pacarnya. Ironisnya, dia putus tepat pukul 00.01am di hari ultahnya. Well, gue rasa itu udah “skenario” banget oz gue ngerti gimana sifat dari temen gue. She is so drama queen sekali… hehehe..

Then, gak lama kemudian. Mungkin kalo dihitung dengan kalender masehi, seminggu kemudian dia mendapatkan gebetan baru. Hasil dari kopi darat. Nah, mengetahui kedekatannya dengan gebetan baru… gue dan teman kost lainnya mencoba memprediksi iseng-iseng gak berhadiah.

Gue: “eh! Sekarang si Mawar (Nama sengaja disamarkan) udah ada gebetan baru, neh… Udah jadian, lom??” Soalna, si Mawar ini punya kebiasaan untuk jadian setelah beberapa hari ketemuan. Atau bahkan, dia bakal jadian dulu sebelum kopi darat. Hohoho…

Temen Kost (TK): “Belom, tuh kayaknya, kan baru ketemuan juga…”

Gue: “Hmmm… jangan-jangan di PAS-PAS’in buat Palentin nanti… Kan, seminggu lagi palentin, neh… Hehehe…”

TK: “iya, pa? Kayak waktu pas dia putus itu, yah? Di PAS-PAS’in.. hehehe..”

Gue: “yaaa… sapa tau. Kan, lebih romantis dan dramatis, gitu…”

Dannnn akhirnya…

Terbukti sudah hipotesis sementara gue dan temen kost gue yang lainnya. Sebenarnya, si Mawar udah jadian H-5 sebelum V-Day. Tapi, si Mawar malah minta supaya cowoknya “nembak” dia lagi pas V-day… Weleh weleh… Repot bener, deh akh… Hahahaa…

Dengan melihat fenomena yang terjadi dalam hidup temen kost gue itu, gue jadi was-was kalo dia udah jadi ibu rumah tangga nantinya dan pada saat dia mau lahiran.

*contoh setting: H-3 sebelum 25 Des*

Mawar (M): “Aduh, dok.. anak saya mau keluar, neh…”

Dokter (D): “Yawda, bu… tarik nafas… hembuskan pelan-pelan… dorong terus… kepala udh mulai keliatan, kok…”

M: “Aduh, dok.. jangan sekarang…”

D: “loh, gimana, sih ibu???”

M: “tanggung, dok.. 3 hari lagi Natalan… Tolong di’cancel dulu, dok…”

D: ”LOH?? Emangnya kenapa kalo 3 hari lagi itu Natal..??”

M: “Ya, biar pas aja, dok. Anak saya mau saya beri nama Natalis. Kan, seru kalo dia ulang tahun nanti pas Natalan…”

D: ”Yaa.. terus, ni anaknya mau di-gimana-in???”

M: ”Dicicil aja keluarnya… hari ini kepalanya dulu. Besok, tangan dan setengah perutnya. Terus, hari berikutnya baru, deh semua badannya… Bisa gak, dok?? Kan, sekarang jaman modern, gitu dok…”

D: ”Dicicil??? Emangnya ibu mau beli panciii???”

Hehehee…

Cerita #4

Baru aja siang tadi gue menemani temen kost gue lainnya untuk berburu hadiah valentine… Dia berburu sepasang kaos kaki bola! Hehe… Setelah sesampainya di Amplaz *akhirnya! Sudah lebih dari 6 bln saia tidak ke mall T.T*, gue melewati sebuah took kecil yang berada di sebelah GRAMED. Gue gak tau persis namanya apa, yang jelas itu took berorientasi menjual pernak-pernik otomotif, gitu… dari T-shirt sampe miniaturnya…

Gue: “eh, itu toko apaan, sih??”

Temen Kost (TK): “gak tau. Kok, ada tulisannya: buy two get one? Gak laku, pa ya?”

Gue: hahaha… hooh. Sepi, gitu…”

Gue: “itu… kok ada boneka Doraemon nyempil, sih?? Ada bantal segala, lagi!”

Bener-bener si penjual memanfaatkan moment ini untuk meningkatkan omset penjualan. Weleh… Liat aja di took-toko pinggir jalan. Tiap toko hampir menyediakan boneka beruang, lah.. Bantal hati, lah.. Coklat berbagai rasa, lah.. dan kawan-kawannya… hehehe…

Yaaa, gak kebayang aja. Nanti ada toko material yang juga menjajakan pernak-pernik valentine.

Sedia:

Mur bentuk hati rasa coco milk

Palu rasa coklat dengan krim mocca

Paku colorful chocolate

Dsb

Ya, begitulah. V-day yang bukan “hajatan” aseli orang Indonesia ini pun semakin dijadikan sebagai calendar event terfavorit, kayak hari-hari besar lainnya. Buktinya, pasti toko-toko memanfaatkan moment ini untuk meningkatkan penjualan. Yahh, maklum, lah… namanya juga usaha.

Ada cerita seru lainnya??

Happy valentine’s Day, kawandh-kawandh…

*Share your love everday*

Leave a Comment

.Thanks to Facebook.

Gue mungkin jadi orang yang paling norak sedunia. Tapi, ini bener-bener luapan dari pantat hati saia… (from bottom of my heart). Berkat FB, gue bisa nemuin sohib-sohib gue dari jaman SMA, SMP, SD, bahkan TK… hehehee.. Dasiat, dah!Berkat rasa penasaran gue, otak atik buku telpon jaman baheula, cari nama panjang temen-temen lama, trus… klik find finders… and then, olalaaaaa…..

Ketemu, dah!!

Add as friends…

Tunggu di’confirm ajah, deh..

As simple as that

Contoh real lagi… kemaren gue lagi bongkar-bongkar BOX (bad) memories gue. Eh, di situw ada dompet kembang-kembang norak banget tapi masih ada beberapa kartu nama dan 2 lembar uang seratusan merah. Iseng-iseng bongkar lagi, nemu kartu nama temen SD gue. weh, waktu SD ntu… om gue punya usaha buat kartu nama. Itu, loh… jaman SD kan suka diedarin katalog-katalog berbagai macam gambar untuk dijadiin kartu nama… Nah, om gue bikini gue kartu nama. Emak gue juga. Jadi banyak, dah. Gue sebar-sebarin aja, tuh kartu nama. Temen-temen SD gue juga malah ada yang minta dua! Edan! Disangkanya maenan gambaran yang suka dijadiin “tepok’kan”, kali iah… ^^!

Lalu, kartu nama itu tertulis: “Meifi Santoso”. Gue langsung inget sesosok cewek putih (banged!). Sipit. Lembut. Pokoknya kalem, dah orangnya. Hehehee…

Iseng-iseng, gue langsung sig in FB di hape butut gue. Klik find finders..

Olala…

Ketemu, dah!

Walaupun gak ada fotonya, gue pede-pede aja. Lagian, yang ketemu pun cuman 1 account. 90% itu emang si meifi… *asumsi pribadi* ^^!

Gue semangadh ngetik note ini karena gue lagi wall-wall’an ma si Indah Nababan, temen SD gue yang udah kayak preman ajah waktu dulu. Walaupun dia dan gue sama-sama cewek, tapi malah sering berantem. Dan mau tau, apa yang sering jadi gaya perkelahian anak SD pada waktu itu?? Banting-bantingan tas!!

Gue inget banget waktu si Indah *her name is too good too be true buat seorang cewek yang kayak preman pasar, gt ^^!* ingin melaksanakan aksi kejahatannya… Dia langsung menghampiri gue yang lagi duduk dengan manis menunggu jemputan di halaman samping gereja, deket rumah pastor (kalo sekarang). Dengan dipicu dengan kata-kata ejekan yang mengandung emosi jiwa anak SD, adrenalin mulai memuncak.. *tsaaahhhh…* Dia kemudian ngambil tas miki mouse gue yang gedenya kayak tas AKABRI aja, dah! *imut banget, miki mosss!* Kemudian, dia memutar-mutar tas gue di tengah jalan dan kemudian….

BRAGGGGGG!!!

Tas gue kemudian dibanting!

Karena gak mau kalah, gue pun mencari-cari tas dia. Tasnya kalo gag salah inget warna oranye pastel atao ke’coklat-coklatan, gt deh… Terus??? Ya, gue banting juga! Hahahaa… Gebleg banget. Belom lagi, dia suka mulai-mulai buka-buka rok… Gak ampe kebuka, siii… Gue?? Gak mau tertindas, dong…!! Gue bales lagi, dah! Hahahaa… Sumpah, nunggu mobil jemputan kadang bikin gue was-was aja. Takut digoda sama si Gentong, panggilan anak-anak dulu ke dia.. hehehe…

Kalo inget yang dulu-dulu (baca: jaman TK plus SD), pasti cupunya gak ketulungan. Bikin ngakak sendiri. Makanya, gak kebayang kan ketemu orang yang bertahun-tahun gak ketemu. Tanpa pernah sms atau telpon. Ataupun tatap muka secara langsung?? Pasti kalo ketemu langsung, bakal heboh-heboh sendiri.. gue aja yang cuman ketemu lewat situs pertemanan dan wall-wall’an aja ampe jingkrak-jingkrak ndiri… *itu, gue yang gila!*^^!

Jaman TK

Gue pernah tuh boker di celana, trus gue disuruh ganti (sama om slamet kalo gak salah. Yang kumisan.) pake baju long dress warna pink ada renda-rendanya dan kembang gede’y… *hoeks!* Trus, di mobil jemputan, gue ngerasa paling beda sendiri. Paling glamour di antara temen-temen gue yang pada pake baju OR biru waktu itu.

Trus, ada yang bilang gini ke gue:

“Gandes pake baju ulang tahun, ya???”

GUBRAGGGGGG!!!

Harusnya waktu itu gue jawab: “bukan! Ini baju renang, tauk!”

Bwuahahahahahaa….

Beda lagi jaman SD.

Waktu gue, Ellen, Dessy, Archie, n Lisbet kumpul-kumpul pas Januari yang lalu… *Archie dan Dessy sendiri temen TK gue* langsung ngomongin cinta-cinta SD dulu… hahaha… Konyol. Si A pernah suka ma si B, lah… si Anu sama si Anu lah… Si Desi malah, gue sempat jadi EO’y waktu ada “heboh-heboh” di kelas… Tebar-tebar kertas kayak acara nyambut penganten, itu loh… Buat apaan, tuh??? hahahaa… Kurang gawe, yang jelas. Ada juga yang mpe buat surat cinta segala. Ekhm! Hahahaa…

Tapi, gue masih inget sama ceritanya si Fani Tobing (sayang, belum ketemu di FB). Dia punya kakak yang SMP-nya tuh satu lingkup sama SD. Dan kebetulan, tas mereka sama. Warna dominan item *bener, gag iah?*. Eh, eh, eh masa’ ampe ampe bisa ketuker. Jadi, tuh si fani pas buka tas-nya di kelas… isinya malah buku-buku milik sang kakak… weladalah… hahahhaaa…

Lucu. Bangedh.

Gimana,iah kalo ada acara kumpul-kumpul lagi?? Tapi yang spesifik. Maksudnya, temen SD ya temen SD, gt… Temen SMP ya SMP… Temen SMA ya temen SMA… Biar lebih kerasa “temu kangennya”. Trus, ajak guru-gurunya juga. Paling gak, biar mereka jadi ngerti dan tahu bagaimana produk hasil dari didikkan mereka jaman baheula… hehehe…

Tapi, as long as time goes by…

Manusia tetap bisa berubah walaupun sekecil apapun…

Seperti yang terjadi dengan gue ataupun eman-teman yang lain.

Yang penting, kita semua jangan pernah berubah untuk melupakan pertemanan ini…

Well, sapa yang masih inget cerita SD atau TK dulu??

Sapa, iah temen-temen SD dan TK yang belom dicoba untuk dicari??

Hehehe…

Selamadh mencari dan selamadh bernostalgila…!!

Leave a Comment

.putus lagih: dan swallow pun berbicara.

Haduh….

Ini udah yang ketiga kalinya. Kejadian, peristiwa, dan kasus ini cukup sudah melengkapi kejadian yang sudah-sudah.

Sepatu sandal gue copot lagi. Sial.

Begini ceritanya.

Hujan mengguyur daerah kampus dan kost gue mulai dari jam 11.10am. Gue baru nyampe kost sekitar jam 11.30am. Habis dari tempat teman. Gue pun makan (pagi plus) siang di kost bersama Mba Dani. Buru-buru karna jam 12 nanti gue musti kuliah Positioning.

Hujan semakin deras dan jam di hape pun telah menunjukkan pukul 11.59am. Sial. Gue harus kuliah. Jangan takut akan hujan. Wong, yang turun juga cuman aer…

“Udah, sanah siap-siap. Kamu kuliah, to?” Kata Mba Dani yang lagi nyuci sendok.

“Hooh, nih mba.. Eh, apa aku pake swallow aja, kali yak… Hujan deres gini…”

[mungkin ini udah pertanda gak baek]

“Ouw, dasar…”

Gue pun bergegas masuk kamar. Ambil jaket biru. Ambil tas coklat. Jangan lupa bawa senjata pamungkas: payung abu-abu luntur gue. Dan kantong kresek bening. Kemudian pada saat gue di teras kost, gue mulai dilemma. Dilemma yang untungnya tak berkepanjangan: “swallow or not”

Mengingat gue sangat menghormati Bu Anita sebagai dosen, saia gak tega bila saia harus menggunakan swallow ke kampus. Ak-hir-nya *dengan gaya si pitri tropikana slim* … gue dengan berat hati dan menahan tangis, harus meninggalkan swallow merah gue… Berharap si swallow merah tidak menanamkan dendam kesumat kepadaku.

Gue pun berjalan menuju kampus dengan memakai sepatu sandal putih gue. Dengan celana panjang dilinting se-lutut dan berpayung abu-abu, gue persis sekali dengan anak korban banjir. Hags. Waktu semakin berputar dengan cepatnya. Untungnya, gue sudah menapaki gerbang parkiran kampus belakang…

.the damnest part.

Sama seperti dua kejadian sebelumnya, baru 5 langkah tiba-tiba…

TESSSSSSSS!!

Sial. Tali bagian depan sepatu sandal gue yang sebalah kanan putus. Sial. Sial. Sial. Dengan gaya sok cool. Gue mebungkukkan badan dan malah nurunin lintingan celana panjang gue di pinggir parkiran. Gue kembali dilemma: lanjut masuk kelas atau beli swallow dulu. setengah detik kemudian, gue membalikkan badan dan keluar dari parkiran. Tentu saja, dengan gaya menyeret-nyeret bak suster nyesot lagi ngepel lantai.

Gue pun berusaha untuk menuju ke warung belakang. Untuk kedua kalinya, gue beli swallow di sanah dengan alas an yang sama: sepatu sandal gue putus. Sambil menuju ke warung yang bersebrangan dengan burjo itu, gue sempat malu karena gue bertemu dengan 3 orang senior gue. Bukan, mereka bukan para pembasmi pengguna swallow atau yang lain… hanya saja, gue malu kalo mereka tau sandal gue putus. Makanya pas berpapasan dengan mereka, gue udah senyam-senyum gak jelas… *malu, gila!*

“Ngopo e, kowe? gak jelas…” terdengar suara dari salah satu dari mereka karena melihat gue yang senyam senyum kayak orang yang kayak kena penyakit cacingan akut…

“syukur, lah… mereka gak ngerti kalo sandal gue putus… huhuhuhu…” gue berucap syukur dalam hati. [tapi, ya… sekarang mereka jadinya ngerti. Dodol. Hags.]

Gue pun mulai bertransaksi dengan mas-mas si pemilik warung kelontong itu.

Gue: “mas, ada swallow, gak?” Gue mulai dengan pertanyaan retoris gue. Padahal, udah jelas ada tumpukkan swallow di etalase bagian bawah.

Mas-mas pemilik warung (MPW): “ouw, ada banyak…” [Gelo, neh orang. Emangnya gue mo kulakkan, pa?]

Gue: “satu aja, lah mas…” [gue malah nanggepin]

MPW: “yang ukurannya berapa?”

Gue: “10 atau 11, lah…” [gue yakin aja dengan ukuran segitu. Masalahnya, gue juga udah ‘cukup berpengalaman’ dalam membeli swallow]

MPW: “Ha? 12-13??!” [Busettt! Nih, mas-mas budeg apa congek’an, sih??!! Ukuran 13?? Mangnya kaki gue selebar lapangan bola, pa??]

Gue: “ukuran 11, massss…”Gue udah mulai berasap. Gue udah teladh 5 menit lebih, nehhhh…!!

MPW: “Nih.. Mau dibungkus, gak?” Tanya mas-nya bawel.

Gue: gue pun menghela nafas. “ouw, gak usah, mas… Ini langsung dipake, kok…”

Okeh. Gue mulai beraksi. Dengan mantap, gue pun merobek plastik pembungkus swallow itu. Mencopot sepatu sandal gue. Memakai swallow baru. Memasukkan sepatu sandal gue ke dalam plastik tadi. Hufff… mari melangkah dengan pasti… walaupun telat sudah lebih dari 7 menit…

Sekarang, keluarga swallow gue pun bertambah. Mungkinkah setiap semester, akan ada swallow yang bermunculan…

Pertama. Swallow hijau ukuran 11. –bawa dari rumah. sudah almarhum-

Kedua. Swallow biru ukuran 11. –sudah almarhum-

Ketiga. Swallow biru ukuran 10. –di HM-in ma ibu kost-

Swallow hijau ukuran 12. –jadi sandal WC-

Keempat. Swallow merah ukuran 10. –bawa dari rumah. Masih aktif-

Kelima. Swallow biru ukuran 11. –masih bau ‘swallow’-

… dan swallow merahku saat ini tersenyum berdampingan dengan si biru…

“Dengan swallow, kita pasti bisa!!”

Pengen punya swallow warna item, akh!! hehehehe…

Leave a Comment

.berawal dari shoutout teman.

Sebenarnya, ini kisah lama dan sudah ada sejak internet masuk ke Indonesia. Pembahasan ini pun sudah sering ditemui di berbagai surat kabar atau penelitian-penelitian para ahli (dan dijadikan tugas UTS pada mata kuliah MPK semester yang lalu). Gue gag mau bicara secara ilmiah. Cuman ingin mengkaitkan apa yang terjadi secara real (dalam lingkup kecil) dan menghubungkannya dengan shout out seorang teman si salah satu situs pertemanan yang lain (itu, loh… situs yang lebih booming duluan dibandingkan dengan facebook ^^).

Everyone has a privacy part in their life. Tapi kadang, hal-hal personal pun bisa dijadikan sebagai konsumsi publik. Mereka bukan presiden, mereka bukan artis papan atas, artis papan bawah, ataupun artis papan triplek… mereka juga bukan tokoh-tokoh yang merasa punya ketenaran di antara manusia-manusia yang lain. Mereka adalah orang biasa. Walaupun begitu, mereka tetap saja merasa “nyaman” untuk berbagai cerita dengan milyaran orang di luar sanah.

Ambil contoh aja, waktu kita chatting. Ditanya umur, jenis kelamin, atau pekerjaan… Awalnya memang ngobrol yang umum-umum, tapi gak menutup kemungkinan kita jadi pelacur *pelaku curhat*, dah… Soal cinta-cintaan, lah.. soal lagi bête, lah… soal lagi sembelit, lah… dan apapun itu…

Kemudian, beberapa tahun yang lalu muncul tradisi buat nge’blog. Para bloggers mulai bermunculan. Ditambah lagi, mnculnya raditya dika sebagai penulis pelopor yang mengangkat novelnya dari tulisan-tulisan di blog-nya. Di dalam webblog, penulis bebas memasukkan tulisan-tulisan mereka. Lah, wong itu situsnya dia sendiri. Ada yang masukkin materi-materi akademis, teks lagu, download-an lagu, dan tak jarang pula penulis memposting berbagai kisah kehidupan sehari-hari yang terjadi dalam hidupnya. Mereka mungkin merasa: “people should know about it”.

Hmmmm, tapi kok kalo dipikir-pikir… apakah gejala ini sama dengan shout out yang dimiliki oleh temen gue, mayditha:

“Keluarga seperti orang asing. Orang asing seperti keluarga sendiri”

Keluarga, tempat awal kita berpijak sebelum kita mengenal dunia luar. Sebelum kita mengenal membaca dan menulis. Sebelum kita mengenal sekolah dan teknologi. Keluarga dalam konteks ini adalah ayah dan ibu. Keluarga yang ngerti kita punya tompel di mana *kita?? Lw aja, dah!* Keluarga yang ngerti kita punya alergi apa. Keluarga yang ngerti “telanjangnya” kita… mungkinkah dewasa ini semakin menjadi orang asing??

Tau, gak orang tua kita kalo kita sedang bête? Tau, gak orang tua kita kalo kita lagi merindukan seseorang?? Tau, gak orang tua kita kalo kita majang poto-poto mesra multi gaya dengan pasangan kita?? Tau, gak orang tua kita kalo kita ngefans sama tetangga kost kita?? Tau, gak orang tua kita kalo kita ngomong kasar di shout out/status??

Bagi orang tua yang tidak terampil dalam mengakses internet, mereka tentu gak tau itu semua. Jawabannya singkat:

“wong, mereka gak punya FS, kok!”

“wong mereka gak punya FB, kok!”

“wong mereka gak bisa internet’an, kok!”

Emak gue misalnya. Dia gak tau alamat weblog, FS atau FB gue. Untungnya, emak gue lebih memilih untuk menjadi gaptekers sejati. Ngurusin kerja, rumah plus, anak-anak yang autis kayak gue aja udah repot apalagi ngurusin friendster, facebook, dll. Wew! Tapi, seandainya mukjizat itu datang dan membuat emak gue bisa mengakses webblog gue, mungkin perasaan memberontak yang ada dalam diri akan mudah ditebak oleh beliau.

Tapi, gak menutup kemungkinan kalo ada orang tua yang bikin account FB. Kayak tante gue, misalnya. Hmmm, kalo itu… gue belom tanya-tanya bagaimana pantauan tante gue ke anaknya. Tapi, tante gue pernah bilang begini waktu ngobrol-ngobrol: “kalo punya account’y nyokap, pada takut diliatin ya wall-nya??” (katanya sambil ketawa). Hahaha… iya, juga sih… ^^!

tapi, dalam hal ini tetap aja berlaku johari window. Dari area yang samar-samar hingga area yang benar-bear blind.

Tetep aja berlaku: “gak semua hal lw perlu tau”

Atau: “lw perlu tau, tapi dia gak perlu tau”

Nyambung ke teori CPM juga, dah: “seseorang menentukan apa yang akan disampaikan dan kepada siapa pesan itu akan disampaikan”

So, apakah sah-sah saja bahwa:
“Keluarga seperti orang asing. Orang asing seperti keluarga sendiri”??

Comments (1)

.hanya sebuah analogi.

(080109)

Kemaren gue baca postingan blog: “cerita tentang sebuah cerita”, sebuah tulisan mba chule. Cerita itu menceritakan tentang si crayon dan buku gambar. Di situ gak diceritain, sih ukuran dari buku gambar itu; A4 atau A3… hehe… Singkatnya, sang buku gambar meminta agar crayon tetap berjuang supaya dapat mewarnainya lagi. Jangan sampe, anak kecil –si pemilik crayon- menuruti perkataan ibunya untuk mengganti crayon dengan pensil warna…

Cerita itu berisi perumpamaan kisah si mba Chule dengan dengan kekasih laknatnya… hahaha… (tenang aja, gw tau sapa orangnya! Orang yang pengen gue hina-dina slalu! ^^) Endingnya??? Tampaknya, si crayon akan tetap berjuang supaya dia bisa tetep memberikan berjuta-juta warna di hidupnya si buku gambar… the nice ending…

Setelah baca cerita itu, gue jadi pengen bikin perumpamaan juga *makasih, ya mba chule… inspiring banged, dah tuh cerita! Jangan GR…* Tapi mungkin, another perumpamaan and another ending. Kalo perumpamaan gue, tentang si cat sablon dan kertas gambar.

Pada suatu hari, sang ibu ingin melihat sebrapa besar bakat anaknya dalama hal gambar menggambar. Layaknya ahli-ahli psikolog anak yang sedang mengadakan penelitian, sang ibu pun meletakkan beberapoa alat gambar di depan anaknya: pensil warna, crayon, dan buku gambar. Namun, tanpa penjelasan apapaun sang ibu meninggalkan anak perempuannya yang masih berumur 3 tahun itu.

Lima menit sudah berlalu dan si anak masih duduk di atas lantai. Terdiam sambil menatap benda-benda yang ada di sekelilingnya. Anal itu udah kayak mbah dukun yang lagi dikelilingi sesajen kemeyan, kembang 1000 rupa, dan minyak nyongnyong.

Tiba-tiba anak itu menoleh ke belakng dan didapatinya sang ayah sedang menyablon spanduk.

“…” Anak tersebut terdiam. Lalu tersenyum kecil. Dia kemudian menarikbuku gambar A3-nya dan membuka covernya.

SRETTTT!!

Dengan pede-nya dia menyobek satu lembar A3. Dia kembali tersenyum. Apalagi melihat pinggiran kertas gambar itu yang gak karuan karna disobek secara paksa. Dia pun perlahan-lahan menekuk lututnya untuk bangkit berdiri. Dengan langkah pasti seperti anak cowok yang baru kelar disunat, dia berjalan menuju sang ayah. Dia bukan ingin menegur sang ayah yang sedang asik bermain warna juga. Dia juga bukan ingin meminta ayahnya untuk menggambarkan something on her paper. Dia hanya tertarik pada sekumpulan cat sablon yang berada di belakang ayahnya itu. Dengan tampang tanpa dosa, dia pun mencelupkan jari telunjuk kanannya pada cat yang berwarna merah. Lalu balik lagi ke tempat kertas gambarnya yang dia tinggalkan tadi.

Tanpa rasa ragu, telunjuk yang telah dilumuri dengan cat itu pun menari-nari di atas kertas gambar polo situ.

“…hehehehe…” ia tertawa terkekeh-kekeh. Cengar cengir. Matanya pun ikut jadi sipit.

Merasa telah menemukan cara yang tepat untuk mewarnai, dia pun mengulangi aksi brilliant-nya. Dia kembali kea rah sang ayah. Mencelupkan jari telunjuknya ke warna kuning. Ke tempat buku gambar. Dan kembali berekspresi. Begitu seterusnya…

Dia mengambil warna:

HIJAU

BIRU

Berkali-kali dia bolak balik hingga tanpa sadar begitu banyak tetesan warna yang berceceran di lantai. Sang ayah pun tak sadar atas apa yang dilakukan gadis ciliknya. Cat warna birunya pun nyaris menjadi ungu-ungu gak jelas karna telah dicelupkan warna merah dan hijau yang “dibawa” oleh sang anak.

Namun saat sedang asik asiknya melenggak-lenggokkan jari telunjuknya, dia mendapatkan aura yang tidak enak.

“LINGGA!!!!” Ternyata sang ibu telah berdiri di belakangnya sambil bertolak pinggang. “Mama udah kasih pensil warna sama crayon!! Kamu malah pake cat sablonnya papa!!” Ibunya makin marmos ngeliadh tingkah autis anak perempuannya.

Lingga. Gadis cilik yang paling sebel denger suara orang dewasa yang suka nelen toa itu pun gak bisa membendung air di pelupuk matanya.

HUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….!!!

Lingga akhirnya ikutan berteriak.

“Ada apa, sih ma…?” Tiba-tiba sang ayah menghampiri.

“ada apa?!! Kamu tuh gak peduli banget sama anak! Kalo cat itu masuk mata, gimana?! Kalo masuk mulut, gimana?! Kalo masuk hidung, gimana?! Itu RACUN, tauk!!”

“yawda… yang penting, sekarang si Lingga’nya juga gak apa-apa, kan? Lagian, masih ada kertas-kertas lain kalo mama mau si Lingga menggambar pake pensil atau crayon…”

“HUH!!” Sang ibu merasa kurang puas dengan jawaban suaminya yang sok cool itu. Dia pun menarik tangan Lingga dan berniat untuk membersihkan cat yang blepotan di tubuh Lingga. Dengan diiringi rengekannya, Lingga pun hanya bisa menuruti kemauan ibunya dan meninggalkan kertas gambarnya tergeletak di lantai.

Sang ayah yang tidak ingin mengalahkan sang anaknya itu kemudian membereskan alat-alat gambar yang berada di lantai agar dia dapat membersihkan bercak-bercak cat yang berceceran akibat ulah anaknya itu. Tiba-tiba saat ia mengambil kertas gambar karya Lingga, dia malah tersenyum kecil. Sang ayah yang tadi ingin membuang kertas itu pun mengurungkan niatnya.

And guess what???

Keesokkan harinya, gambar itu berada di dalam bingkai kayu dan akan selalu berada di dalam kamar Lingga.

-the hardest part-

Itulah kisah si cat sablon dan si kertas gambar! Sang ibu merasa bahwa cat sablon bukanlah pewarna yang cocok digunakan oleh anak kecil yang berumur tiga tahun. Lagipula, masa’ kertas gambar digunakan sebagai medianya… ?? begitulah persepsi sang ibu.

“Cat sablon ya dipake buat mewarnai kain. Kertas gambar juga biasanya diwarnai sama pensil warna, crayon, ya… mentok-mentok juga cat aer. Cat sablon kan terlalu ekstrim kalo dipake di atas kertas gambar…” Tapi, gimana kalo gambar yang dihasilkan ternyata gak kalah sama gambar yang dibuat oleh si pensil warna atau crayon?? Ato, bahkan bisa jadi lebih indah… benar-benar indah…

Padahal, andai sang ibu mengerti tentang perasaan si cat sablon dan sang kertas gambar…. Pasti dia takkan merasa kuatir kalo Lingga bakal “kemasukkan” cat sablon. Cat sablon hanya ingin mewarnai si kertas, kok! Bukan untuk menyakiti Lingga… Si kertas pun hanya ingin diwarnai oleh si cat sablon… walo hanya satu lembar saja.

Yapz! Hanya satu lembar. Untung, sang ayah mengabadikan lukisan berjuta-juta warna itu di dalam ruang berbingkai. Karna, si kertas pun tau bahwa dia takkan pernah lagi diwarnai oleh sang cat sablonKarna, kertas-kertas yang lain dalam buku gambar itu akan diwarnai oleh pensil warna atau crayon. Seperti apa yang diinginkan oleh sang ibu…

pelangi di kamar

Kisah ini memang tidak seperti si crayon dan buku gambar. Tidak seperti crayon yang akan berjuang agar tetap mewarnai lembaran-lembaran kertas yang tak terbatas dalam buku gambar itu.

Saat ini, si kertas dan sang cat sablon pun hanya dapat terpaku pada dinding ruang terbatas. Menyimpan berjuta-juta warna cerita yang hanya dapat mereka berdua rasakan. Yang hanya dapat mereka berdua simpan dalam bingkai kenangan dan kehidupan nantinya…

*terpaku dan tetap tersenyum*

Kini tak perlu kuatir jika setelah hujan tak tampak pelangi. Kini tak perlu kuatir pula jika hujan tak kunjung datang dan hanya teriknya matahari yang menyengat. Buat saia, pelangi itu tetap ada…”

Comments (2)

oleh-oleh dari Slipi

060109

Gue bukan orang yang suka jalan-jalan ke ibukota, apalagi ke tempat-tempat nongkrong seperti mall, cafe, atau tempat nongkrong yang biasa ditongkrongin ma anak-anak ABG aktif. Hehehee…

Cuman, hari ini gue lagi mau cari celana panjang yang murah meriah bareng nyokap setelah dia pulang gawe. Tadinya mau ke Tanah Abang, tapi udah terlalu siang. Males juga. Akhirnya, gue berdua nyari-nyari di Slipi Jaya ajah. Kebetulan deket sama kantor nyokap juga.

Alhasil, sekitar jam dua siang lewat… gue pun melancong ke Slipi Jaya.. Beruntung, gue gag menikmati tempat itu bersama beratus-ratus orang seperti layaknya pembeli pasar ikan… Jadi, gue bisa melenggang kangkung, deh ma emak gue, mengitari mall itu tiap lantai… Mungkin, bisa-bisa aja gue berdua guling-gulingan atau sirkus di situ sesuka hati… hehehe…

Hmmm, ternyata dari situ gue menemukan sesuatu yang bikin gue cukup usil untuk mengomentarinya. Ternyata, memang benar kata orang: “gak ada salahnya untuk peka terhadap apa yang ada di sekitar”…

And, i found something!!

1. Logo Pizza Hut

Hmmm, awalnya cuman ngerasa ada yang aneh pas ngeliadh billboard Pizza Hut di depan Slipi Jaya pas gue masih berada di KOPAJA 88. Tampak ada yang kurang, gitu… Tapi, apa yah.. Ada yang kurang… kurang… kurang mampu, kali yah gue wat beli pizza hut… *ya, iya lah!* Bukan! Bukan itu yang kurang…  Tampaknya, gue semakin mendapat pencerahan. Sedikit menemukan “sesuatu yang kurang” itu.. Tapi, masih ragu..

Gue pun turun dari KOPAJA karna ternyata mall yang bukan termasuk mall andalan para ABG itu udah berada di depan mata. Gue pun memasukinya, dan hampir melupakan “sesuatu yang kurang”…

Ternyata, saat gue masuk.. gue kembali diingatkan tentang “sesuatu yang kurang” lagi. Gimana kagak? Ternyata eh ternyata lagi, pas masup mall gue langsung dihadapkan dengan rumah makan pizza hari ulang tahun (hut) itu.. hehehe… dan “sesuatu yang kurang” itu pun tampak di depan rumah makan itu…

Dan, akhirnya pun gue menemukan jawabannya…

gambar 1

gambar yg gue liadh di billboard dan yang dipajang di depan tempat makannya PH

gambar yg gue liadh di billboard dan yang dipajang di depan tempat makannya PH

gambar 2

logo yang dianggap "sudah selayaknya dan sepantasnya"

logo yang dianggap "sudah selayaknya dan sepantasnya"

gambar 1 itu gambar yang gue liadh di billboard dan papan yang ada di depan rumah makannya si pizza hut. Dan, jelas berbeda (beruang mbe kuda) dengan gambar yang pada umumnya terpasang (gambar 2). Entah mengapa tulisan pizza hut itu tak tampak pada gambar satu (tapi, tanpa tulisan itu pun gue tetep bisa “menginterpretasikan” bahwa itu adalah PIZZA HUT —–> berarti pizza hut itu udh masuk dalam persepsi gue.

Kenapa, iah “sesuatu itu” hilang dari tempatnya. Apa udh ganti logo?? Tapi, setelah gue berbelanja di Slipi dan pulang melewati daerah kebon jeruk, gue melihat billboard pizza hut “sebagaimana mestinya”. Hehehehee… Apa karna cetak billboard di daerah slipi itu tergantung warna dan jumlah gambar?? hehehee… *kayak cetak baju aja!*

yaaaa, ato mungkin lagi di pgn di pretel wat diperbaiki, kali iah…

oh, atau… itu sebenarnya cabang pizza hut yang baru. Pizza Hut cabang Zimbabwe, mungkin.. hehehhe…

yasuwda, lah….

Yang penting, it’s interesting wat gue. Mkny, gue tulis.. hehehe..

2. Glodok Electronic

Well, mari kita berpindah tempat! Eh, tetap di dalam Slipi Jaya juga, siii.. hehehe… *lanjut!* Gue dan si emak iseng memasuki toko Glodok Electronic. Gue pikir, nih toko isinya cuman yang elektronik, semacam tipi, radio, dan terutama handphone. Secara, glodok identik dengan jual-beli hape.. hehhe… Ternyata, toko ini menawarkan barang-barang yang berbagai macam rupa. Ada toys, stasionary, alat-alat dapur, peralatan elektronik seperti kabel, lampu, saklar, dll. Bisa dibilang 3/4′nya hypermart, lah… hehehe…

Nah, di dalam toko itu ternyata gue menemukan sesuatu yang “seru” buat gue. Bahkan, ada beberapa hal yang bisa mendukung kuliah gue. hehehe.. *tetep! libur-libur mikirin kuliah… sok bangedh, deh akh!*

a. Making  Comfort the Consumers

Services dan Statisfaction! Mungkin itu yang sekarang dicari sama konsumen saat ini. Konsumen gak hanya nyari barang yang dia butuhin dan langsung pulang egitu aja. Tapi, mereka juga mencari kesan dari tempat/toko yang dia datangin, misalnya ya melalui servis yang ditawarkan oleh si toko itu. Apalagi, kalo dari servis itu mendatangkan kepuasan yang tinggi terhadap konsumen… Wuah, makin berkesan aja tuh para konsumen. Dengan begitu, si produsen pun berharap agar konsumen menjadi loyal terhadap mereka (para produsen) dan semakin seringlah konsumen mendatangi toko tersebut.

Ternyata, eh ternyata… Si Glodok Electronic (GE) mempunyai servis yang menurut gue cukup “nyoi mamen”, gitu.. hehehe

GE menyediakan air minum dan makanan kecil untuk para konsumennya. Gak tanggung-tanggung pula! GE menyediakan aer putih, nescafe, jus lemon, dan jus jeruk… *udah ngalahin aneka minuman yang biasanya dipajang di depan meja para anggota legislatif, to?? -biasanya kan, disediain aer putih dan aer berwarna-*

Trus, makanan kecilnya pun bukan semacam jajanan pasar, seperti arem-arem, lemper, ataupun bakpau. Tapi semacam kue bolu yang dilapisi macem-macem pemanis (coklat atau meses)  dan dipotong kecil-kecil *sekali lahap! makan 10 biji juga blom tentu kenyang, saking kecilnya* ^.^!

But, it’s good idea… i think…

karna (jujur), gue blom pernah nemuin hal seperti itu. Mungkin fasilitas minum gratis memang ada, tapi paling itu cuman ngasih minum aer putih gratis… gag nyampe 3 macem minuman berwarna.. hehehe… Apalagi, GE juga tokonya gak gede-gede amat, kok… jadi, itu tetep gue kategoriin sbg ide yang bagus, lah untuk menarik konsumen.. Nih toko, pasti idola dosen Perilaku Konsumen gue.. hehehhee…

Gue sebenarnya sempat kaget juga, si GE bela-belain buat begituan. “mending laku, neh toko…” pikir gue. Yaaa… gue takut aja kalo ada oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan fasilitas tersebut. Seperti yang HAMPIR gue lakukan tadi.. Tadinya, gue mo nyomot tuh satu kue dan nyobain salah satu minuman berwarna ntu… tapi malu juga… Apalagi kalo gue gag beli apa-apa… hehehe…

Ada, sih… ibu-ibu yang minum aer putihnya… Tapi dia beliiiiii baraaaaannnggggg… hehehehe..

menyediakan 3 tempat minuman...

menyediakan 3 tempat minuman...


GRATISSS, cuy!!!!!

GRATISSS, cuy!!!!!

ini dia kue-kue yang ditawarin.. gak tau, siii ini cuman properti apa asli.. hehehe...

ini dia kue-kue yang ditawarin.. gak tau, siii ini cuman properti apa asli.. hehehe...

b. China Gives The Cheapest Toys!

Oce! Sekarang ada lagi yang jadi iseng gue… Pas masuk bagian mainan anak-anak… Gue nemu “sodara aspalnya” LEGO… Tau, kan LEGO paan?? Ntu maenan idola kakak gue, noh.. hehehe… Dulu gue sama kakak gue merengek-rengek minta maenan LEGO (waktu jamannya WAL-MART di MegaMall Lippo Karawaci) karena bonyok juga megap-megap disko dulu buat beliin… walaupun waktu itu jauh lebih terjangkau dari harga yang sekarang.

tapi, beruntung produk china masuk ke Indonesia. They can give us the cheap products!! Misalnya, merk Bricks ini (gambar 3)… Ini dia, si sodara “aspal”-nya LEGO… harga juga lebih murah, kok… Untuk maenan sekitak ini, *kalo gue gak salah inget* sekitar Rp 30.000-an…

gambar 3

sodara aspal-nye lego...

gambar 3 sodara aspal-nye lego...

Selain LEGO, barang buatan china juga bisa ngasih harga boneka barbie jadi lebih terjangkau… Huff… Coba barbie buatan China datang lebih awal, sehingga cita-cita gue buat koleksi barbie pun dapat tercapai… hehehe…. *centil banget, gue berniat untuk koleksi barbie!*

yaaaa, kira-kira…. begitu lah oleh-oleh gue dari slipi…

gak banyak, siii…

tapi, cukup seru aja, buat gue yang jarang menggauli kota jakarta..

*gelora nulis post ini semakin bekurang karna si ocha konsultasi take home UAS: metode penelitian komunikasi*

Comments (1)

yang dulu di 2008…

these are my journey along 2008 yang lalu… time was running so fast and so furious… (kayak pilem, deh akh!)

Januari “diusir dari kost”
(01) dapat nu year whises dari si dodol

(17) kepastian dari si penelepon esia

(20) Dapet TTD Raditya Dika darisi gomel. (thanks, mel! sohib paling yahud, dah! hehehee…)

(22) pencarian kost-kost’an. Ngetok sejumlah pintu dan mengeluarkan pertanyaan wajib: “ada kamar kosong, gag?” —->> “ada… kamar mandi, noh!”

Februari “kost baru yang sucks!!”

(02) dapet kost baru yang tak kurang seperti layaknya kandang ayam. Mana kasurnya jebol, pula! Alhasil buku TEKOM pun jadi sasaran ganjelan kasur! (bu Yudi, bukunya multifungsi, lho… hehehee…)

(12) realize that i’m not a perfect girl like her…

(10-14) bantu bantu aiu jualan coklat, maksudnya bantu bikin kemasannya. Kesian tuh anak, dibudayakan ma temen-temennya ampe bolos kuliah berkali-kali..

(14) dapet coklat kasih sayang dari sobar-sobat dan si dolkemitt… heehehee..

Maret “just speak up!”

(07) Nyet…!! Di warung Ekonomis ada yang Fauzi Baadilla… AJROOOTTTT!!! SROTT!! Cowo cepak, jaket abu-abu, celana pendek, napak tanah… hampir mirip… hehehee… *emang kalo jodoh, gag kemana!*

(26) nentuin tempat hang out bareng dodol

( 28 )-1- road show THE CONDUCTOR —> ramai dan lelah

-2- let’s talk! fish to fish… *inget-inget kagama, bunderan ugm, dua gelas suhe hangat, dan… penampakan!!*

-3- vita jadi tau gara-gara nuker helm kuning… basi, dah!

April “dia dan mereka…”

(07) ada yang ngucapin ultah… si sheli momon kecepatan ngucapinnya.. hee..

( 08 )  -1- my best day. Telpon-telponan dari jam 01.30 am ampe 05.30 am. Rekor dalam hidup gue. —-> ngobrol sama ngigo udah gak bisa dibedain. Jangan ditiru kalo gak mau tercipta miss-communication.

-2- surprise gagal : si erlin, intan, rina

-3- cornetto mini semuanyaaaa…. nuwun, yooo…

-4- TB5 —-> makan martabak. Si aiu sok-sok’an ada kul malam… beuh! heee…

(12) ultah si dodol

-1- one night, 3 places: benteng-alkid-paris

-2- untuk pertama kalinya say “NO” to MCD… *lagak bener, dah gw!* Padahal, udah lebih 5 bulan gw gag nyentuh junk food.

-3- Leher gw alergi —-> masa alergi pantai??? imposibil amat, dol!


Mei “the tragedy”

(07) 09.15pm tragedi jendela kamar.

(21) UAS pun kelar. Puji Tuhan…

(23) went to Paris. Mo denger pasir yang (masih suka) berbisik


Juni “temanya apa, iah???”

Liburan??? gw gag pulang kampuang. Ambil SP (kewarganegaraan). Ikutan FIAT (Fisip Atma Jaya Television).

Juli “stressing FIAT”

(21) mimpi sangar:

- tangan yang berdarah

- gempa bumi campur bledug kuwu… *dueng??!!*

si aris malah sms yang aneh-aneh, lagi… bikin tambah serem aje. Hehehe..

(24) dapet ide buat nulis blog, neh… ihiii…


Agustus “masih ada sisa STRESSSSS….!!”

(13) -1- gue gak sukses jadi PD (program Director), pa? Huhuhu…

-2- ada surprise ultah mba wudi.

(15)  Company Profile FE… hufff! no comment!! *jedag jedug kepala!*

( 18 )  mencoba untuk sadar namun itu hanyalah kesadaran sesaat. Kesadaran semu.

September “welcome to semester 3!”

( 08 )  pesimis ma semester 3.

(09) parno parno parno parno karna dosa…

Oktober “lelah menjadi pecundang!”

(05)  siap-siap UTS lagi. “mohon doa restu, ya…”

(07) went to solo… bertemu si buluk. Thanks wat sate kambiangnye…

(16)  -1- bete ma anak ********* —–>> korban diskriminasi!

-2- kenyataan perasaan: SAKIT!

(25) TIRED DAY

-1- at 5.30am jadi kru dokumentasi wisuda (kelar ampe jam 4.30pm)

-2- at 5pm disuruh kumpul ma BEM, tiap UKM

-3- at 6pm made decision with dodol. And finally, i MADE IT!! (dan kembali… itu keputusan semu… hufff..)

(26) -1- flashdisk satu giga yang udah berusia 3 tahun lebih itu menghilang.

-2- take a break!!

-3- kerja kelompok marcomm gagal

-4- ng’net 3 jam malah lupa kirim bahan OP ke erlin n sombret.

-5- tugas advert masih keteteran

-6- at 10pm baru nyadar kalo hari ini baru makan pagi doang.

(27) -1- sms dodol masuk at 9am.

-2- tugas advert baru kelar 1 jam sebelum kuliah jam 12pm. Gag sempat makan pagi padahal ntar kuliah ampe sesi 4 yang kelar jam 7pm.

-3- tugas ketinggalan, untung ada mba dani yang mo ngambilin… hee… Tx.

-4- Take a break again and again…


November “kelabu!”

(10) diserbu banyak tugas (MPK, film&sinema, marcommm, manpem, OP, dkk)

(29) -1- project proposal film&sinema gagal!! ganti judul lagi!!

-2- blom ngedit desain poster erlin. Mati lampu, lagih! *kata erlin: “oglangan, y ndes…”*

(30) cry me a river (again and again) *kayak cewek aja, deh akh!*

Desember “selesaikan hari ini dan mari kita pulang!”

( 18 )  the last UAS. The worst UAS. JANGKRIK!

(19) pamit kelar UAS sama Tuhan.

(21) satu hari puollll: cari oleh-oleh…

(22) pulang kampuang… eh! ketemu si flori… hehehe…

(23) nyampe rumah: bayar hutang tidur yang tidak nyaman selama di bus semalam!!

(24) malam natal bersama keluarga ke gereja. Si buluk pun datang…

(25) masak-masak. bagi-bagi. Open House part I

(26) Open House part II. Dan, uring-uringan pun dimulai… heee…

(27) Open House part III. Keluarga dari Menteng Atas pun datang.

( 28 ) -1- bagun pagi, ke gereja.

-2- ke pasar: cari cumi!

-3- Open House part IV —-> yang dari Tj. Priuk datang. Si yanto dan chule pun mampir…

(29) -1- gantian berkunjung ke rumah deweeee… yeyeyeyeyeyyy!!

-2- gag jadi ikutan reunian anak sleadi… hummmm…

(30) ke RS: check up! *suwi tenan, rek!!*

(31) ke gereja. Malam taon baruan bersama keluarga yang kurang lebih sudah satu tahun tidak bcengkrama bersama… Dan kami pun menanti pergantian tahun… dan kabar bahwa ada yang meninggalkan… huhuhuuuu…

well, those were my life in 2008.

what’s next???

new year.

new resolution.

new life.

new story.

new problem.

new solution.

happy new year, guys!!

nu-yer2 love your future!!

keep smiling!!

-si’ndeso-

Leave a Comment

Mo pindah kost lagi, ha???

dua januari dua ribu sembilan bikin gw senewen aja.

Mba dani tiba-tiba sms, ngajakin pindah kost. Emang banyak masalah yang ada di kost gue. Tapi, masalah itu ada bukan untuk dihibdari, to?? Bener, gag sih??? Gue ngerasa, selama masih bisa dikomunikasikan, kenapa gag diselesaikan?? (that’s why i learn communication)…

hufff… sempet bingung; mo ikut pindah kost atau nggak. Tapi, gw tetep mo ngebahagia’in ortu gw, termasuk emak gw. Emak gue udh makin nyap-nyap (nyanyian amarah ibu2) aja, denger kalo gue diajakin pindah kost, apalagi kost yang jauh dari komplek Tambak Bayan.

Gimana nyokap gue gak marmoz, gue udh pindah kost sebanyak tiga kali!!! Padahal, gue aja baru semester tiga… Udah kayak banyak uang ajah, kali gue. lagipula, yang milih kost di situ juga gue sendiri. Trus, kenapa pindah lagi?? Gak cocok??? Alaaaaahhhhh… udah kayak alasan artis2 di infotaintment yang pada cerai ajah…. “yaaah, mungkin karena udah tidak ada kecocokkan… sudah tidak jodoh lagi…”

PRETTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!!!

Gue sendiri gag tau, bakal pindah apa nggak.. Misi gue saat nanti gue pulang k kost, gue tetep bakal ngomong dulu sama bapak kost, gimana solusi yang tepat. Win Win Solution, paling nggak. Kalopun tidak mencapai kata mufakat, gue gag akan pindah kost yang jauh dari komplek TB (sekali menegaskan). Cuman komplek itu yang deket ma kampus gue. Gue, sebagai si pejalan kaki yang setia, takkan mampu menempuh jarak yang lebih jauh lagi dari Tambak Bayan 8… paling, puol… TB 10, lah…  hehehee…

Toh, gue juga gak bisa menggantungkan hidup gue dengan orang lain. Tapi, ue bukan berarti tidak butuh orang lain… Gue juga ngerti adanya paham manusia sebagai makhluk sosial. Tapi, setiap orang juga punya tujuan, prinsip, dan cara hidup yang berbeda-beda..

so, keep smiling, ndeso!! You’ll find the sunshine and you can keep smiling!!

Leave a Comment

Older Posts »